JOGJA - Pemenuhan gizi anak dinilai menjadi salah satu faktor penentu menyiapkan generasi penerus untuk mewujudkan Indonesia Emas yang ditargetkan tercapai 20 tahun lagi.
Kerjasama lintas sektor diperlukan untuk saling mendukung cita-cita tersebut, baik dari pemerintah, masyarakat maupun swasta.
Di Kota Jogja terdapat perusahaan pionir produk nutrisi Indonesia yakni PT Sarihusada Generasi Mahardhika (SGM).
Berlokasi di Jalan Kusumanegara No.173, Muja Muju, Kemantren Umbulharjo, Kota Jogja, DIY.
Pabrik dibangun pada 1954 di Kota Jogja yang merupakan hasil kolaborasi pemerintah Indonesia dan PBB untuk mengatasi masalah kekurangan gizi pasca-Perang Dunia II.
VP General Secretary Danone Indonesia Vera Galuh Sugijanto mengatakan, selama puluhan tahun, perusahaan ini turut serta dalam pembangunan masyarakat.
Salah satunya bekerja sama dengan Pemkot Jogja.
Di antaranya Program 1000 Hari Pertama Kehidupan Aksi Pencegahan Stunting (1000 HPK Si Penting) yang tahun ini menyasar Kelurahan Sorosutan dan Tahunan, Umbulharjo, Jogja.
"Ada inisiatif pembangunan PAUD Generasi Maju di Taman Pintar Yogyakarta dan sebagainya," bebernya.
Dalam peringatan ke 71 tahun ini, pihaknya menyampaikan komitmennya untuk terus berkontribusi mencetak generasi maju Indonesia.
Melalui bidang dan kerjasama yakni mencukupi kebutuhan gizi anak sebagai calon penerus bangsa.
"Anemia akibat kekurangan zat besi menjadi masalah utama yang dihadapi anak Indonesia. Kondisi ini kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya dapat mempengaruhi perkembangan kognitif dan kemampuan berpikir anak," jelasnya.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI tahun 2018, prevalensi anemia pada anak usia 6-59 bulan mencapai 38,4 persen.
Artinya satu dari tiga anak Indonesia berusia di bawah lima tahun kekurangan zat besi, Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari lima negara dengan prevalensi anemia tertinggi di Asia Tenggara. (oso)
Editor : Meitika Candra Lantiva