Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Komik Merebut Kota Perjuangan, Propaganda Orde Baru yang Jadi Rebutan Jenderal

Cintia Yuliani • Jumat, 22 Agustus 2025 | 20:28 WIB
Putra Wid NS, Fajar Sungging sedang memegang komik Merebut Kota Perjuangan karya ayahnya Jumat (22/8/2025).
Putra Wid NS, Fajar Sungging sedang memegang komik Merebut Kota Perjuangan karya ayahnya Jumat (22/8/2025).

BANTUL – Tak banyak yang tahu, di balik lahirnya komik legendaris Merebut Kota Perjuangan tersimpan kisah panjang penuh intrik.

Komik yang mengisahkan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta ini mulanya dimaksudkan sebagai proyek besar untuk mengangkat nama Presiden Soeharto. Namun, proses pembuatannya ternyata tidak berjalan mulus.

Putra almarhum Wid NS, Fajar Sungging menceritakan, situasi politik kala itu sangat kuat dipengaruhi figur Soeharto. Hampir semua orang, baik institusi maupun perorangan, ingin dekat dengan Soeharto. "Bisa demi jabatan, kepentingan bisnis, atau yang lain. Jadi beliau benar-benar menjadi satu-satunya panutan saat itu,” kenangnya saat ditemui di rumahnya, Jumat (22/8).

Menurutnya, setelah naskah komik selesai digambar lengkap dengan teks dan hanya tinggal dicetak, muncul persaingan antarjenderal. Mereka saling berebut agar bisa mencetak komik tersebut. Motifnya sederhana agar bisa menunjukkan kepada Soeharto proyek itu adalah miliknya, sehingga mendapat kedekatan politik.

Pada saat itu ia masih kecil, pernah melihat sendiri jenderal datang ke rumahnya dengan mennaiki mobil Daihatsu hijau dikawal beberapa ajudan.

"Saya dengar dia berkata ke bapak, ‘Pak, naskahnya buat saya ya’. Tapi bapak saya menolak karena naskah itu bukan miliknya, melainkan milik Pak Marsoedi,” tutur Fajar.

Penolakan itu berulang. Bahkan, ada jenderal yang sampai menawarkan uang Rp 800 ribu jumlah fantastis pada era 1980-an. Namun tetap ditolak Wid NS. Penolakan tersebut justru menimbulkan ketegangan. “Ada nada-nada membentak, bahkan sampai muncul ancaman halus tapi keras. Kalau bapak menentang, bisa saja dituduh PKI,” ucapnya.

Ancaman itu menjadi momok besar pada masa Orde Baru. Tuduhan terkait PKI bisa berarti penjara panjang bahkan hilangnya kebebasan. Akibat tekanan, para ilustrator akhirnya terpaksa mengalah dan hak mereka atas komik itu hilang begitu saja. “Bayaran sesuai perjanjian tidak pernah cair. Hanya dapat uang makan seadanya. Padahal mereka menggarap bertahun-tahun,” ujar Fajar.

Kisruh perebutan naskah juga sampai ke ranah pengadilan. Namun, perkara berakhir tanpa kejelasan. Naskah dianggap seperti barang kosong yang bisa dicetak siapa saja. Hingga akhirnya, komik itu memang terbit, namun tanpa kejelasan siapa penerbit utama dan tanpa royalti bagi para ilustrator.

Komik Merebut Kota Perjuangan sendiri awalnya digarap sejak awal 1980-an dan selesai tahun 1985. Naskah disusun oleh Marsoedi yang dikenal dekat dengan Soeharto dan tinggal di kompleks Keraton Yogyakarta. Selain itu Hasmi juga berkontribusi dalam menulis skenario komik tersebut.

Baca Juga: Semen Padang Ingin Lanjutkan Tren Positif di Kandang, Sukses Taklukkan Dewa United Pekan Lalu, Kini Waktunya PSM Makassar?

Proses sketsa, pewarna, dan finishing dipercayakan kepada Wid NS, sedangkan ia meminta bantuan temannya untuk proses pewarnaan yakni Hasyim Katamsi, Djoni Andrean, dan Hasmi.

Pengerjaannya berlangsung hampir dua tahun. Semua dilakukan manual mulai sketsa pensil, pengecekan detail senjata dan bangunan dengan riset ke museum, hingga pewarnaan. “Kalau salah sedikit saja, harus diulang dari awal. Tidak bisa diedit seperti sekarang,” kata Fajar.

Komik berukuran besar setara A4 itu kemudian dicetak ulang berkali-kali dengan ukuran lebih kecil. Uniknya, cover-nya sudah beberapa kali berubah meski isi tetap sama.

Komik ini kemudian diwajibkan beredar di sekolah-sekolah SD hingga SMA di seluruh Indonesia sebagai bacaan wajib.

Pesan yang ingin ditegakkan kata dia, mengangkat Soeharto sebagai tokoh utama perjuangan Serangan Umum 1 Maret. jika dibaca sekarang, terlihat sebagai komik propaganda. Namun pada waktu itu anak-anak sekolah wajib membaca agar tahu Soeharto sosok yang sangat berjasa.

Sayangnya, proses panjang pembuatan komik itu juga berdampak pada karya lain yang dibuat Wid NS. Komik populer karya Wid NS berjudul Gundala, sempat terhenti produksinya karena fokus pengerjaan komik Merebut Kota Perjuangan. (cin)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Komik Merebut Kota Perjuangan #soeharto #Wid NS #Komik #Fajar Sungging #Merebut Kota Perjuangan