RADAR JOGJA - Mbah Demang adalah sosok di balik lahirnya upacara adat Suran Mbah Demang yang digelar setiap tanggal 7 Sura di Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Sleman. Tahun 2025, upacara ini jatuh pada Kamis (3/7) lalu.
Prosesi Kirab Suran Mbah Demang sendiri diawali dengan kirab dari kalurahan hingga sumur Mbah Demang. Selanjutnya ada upacara penyerahan pusaka, seperti kitab ambyo, foto, dan bende.
Dilakukan juga pelepasan burung merpati putih yang melambangkan niat tulus Mbah Demang. Selanjutnya menyebar udik-udik dan rebutan gunungan ijo. Ada pula penampilan dari para bregada dan salawatan. Acara terakhir siram ratri yang dilakukan oleh keluarga.
Agenda ini jadi tontonan banyak masyarakat. Berdasarkan pantauan Radar Jogja, sejak lepas Magrib masyarakat sudah menggelar tikar di sepanjang jalan kirab.
Buyut Mbah Demang, Juworo menjelaskan, semasa hidupnya Mbah Demang dikenal sebagai sosok yang dermawan, karena memberikan sedekah kendi ijo. Nasi yang dibungkus dengan daun pisang dengan lauk ketan tholo dan gudangan. "Istimewanya tidak ada garam, jadi rasanya anyep. Dipercaya berkah," katanya.
Dulunya untuk modal memberi sedekah kendi ijo itu berasal dari uang Mbah Demang sendiri. Tradisi ini lalu diteruskan lewat iuran para keluarga. Saat ini penyelenggaraannya diteruskan dengan dibantu dana dari kalurahan.
Laki-laki yang juga dikenal dengan nama Cokrodikromo ini juga dipercaya sakti karena membangun sumur untuk mengatasi kekeringan. Air dari Sumur Mbah Demang ini dipercaya bisa menyembuhkan banyak penyakit. "Salah satunya menyembuhkan orang gila. Itu kepercayaan, tapi memang ceritanya begitu," kata Juworo.
Laki-laki 60 tahun ini menjelaskan, kemampuan simbah buyutnya itu dipercaya merupakan hasil dari laku tirakat yang kerap dijalankan. Setiap tanggal 7 Sura malam, Mbah Demang selalu mengadakan salawat yang diikuti masyarakat dari berbagai wilayah.
"Tapi zaman dahulu tidak ada arak-arakan. Intinya hanya salawatan. Tapi itu saja pengunjungnya sudah banyak sekali," katanya.
Juworo mengatakan, saat itu banyak masyarakat dari luar DIY, bahkan menjual kendi untuk memperoleh air dari sumur Mbah Demang usai proses salawatan. Kini sudah tidak ada lantaran masyarakat sudah membawa botol masing-masing.
"Untuk saat ini setelah tengah malam ada prosesi keluarga untuk padusan di air sumur simbah. Sekitar 20 sampai 40 orang. Diawali dengan bacaan doa saja," katanya. (del/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita