Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Suran Mbah Demang Terdaftar sebagai WBTb sejak 2016, Tradisi Tokoh Berjasa Masyarakat Banyuraden, Gamping, Sleman

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 6 Juli 2025 | 15:30 WIB
Foto Mbah Demang (duduk mengenakan baju hitam)  bersama anggota keluarga
Foto Mbah Demang (duduk mengenakan baju hitam) bersama anggota keluarga

RADAR JOGJA - Nama Ki Demang Cokrodikromo cukup tersohor bagi masyarakat di DIY, khususnya Gamping, Sleman. Tokoh itu dikenal berjasa bagi warga setempat. Sampai saat ini bahkan rutin diadakan upacara khusus mengenang jasa-jasa semasa hidupnya.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman Edy Winarya mengatakan, setiap tahun masyarakat Dusun Modinan, Banyuraden, rutin mengadakan upacara adat "Suran Mbah Demang". Tepatnya pada tanggal 7 Sura.

"Upacara adat itu sudah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda (WBTb) oleh kementerian," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (4/7). 

Tradisi itu telah ditetapkan oleh Kemendikbudristek pada 2016 dengan Nomor SK: 244/P/2016. Sejak dulu, pelaksanaan prosesi itu bahkan selalu dihadiri oleh pejabat setempat hingga bupati Sleman.

"Menurut masyarakat sana, Ki Demang Cokrodikromo dulu berjasa melindungi dari bahaya dan prahara di wilayah Banyuraden," tuturnya.

Status "Suran Mbah Demang" sebagai WBTb merupakan upaya untuk pelestarian tradisi masyarakat lokal. Budaya itu diharapkan tetap lestari dari generasi ke generasi.

"Kami juga sudah memasukkan tradisi Suran Mbah Demang ke dalam kalender even di Disbud Sleman," ucapnya.

Otomatis penyelenggaraan tradisi itu beberapa di antaranya didukung melalui pendanaan dari dana keistimewaan (Danais). Namun tahun ini penyelenggaraan ritual itu terpaksa tidak mendapat sokongan dari danais.

"Karena ada Inpres 1 Tahun 2025, adanya efiensi anggaran termasuk kalender even Suran Mbah Demang," tegasnya.

Ia cukup mengapresiasi kepada masyarakat Banyuraden. Walaupun tidak ada anggaran tambahan dari danais untuk pelaksanaan tradisi rutinan Suran Mbah Demang, masyarakat tetap mengadakan. "Itu kan tandanya memang Mbah Demang sudah mengakar di masyarakat dan anak turunnya," tandasnya.

Masyarakat selalu antusias dalam pelaksanaan acara "Suran Mbah Demang". Setiap penyelenggaraan hampir pasti dipenuhi oleh masyarakat.

"Partisipasi kami (pemerintah) tidak seberapa dibandingkan peran masyarakat. Mereka peduli keberlangsungan tradisi itu," jelasnya.

Sebagai upaya pelestarian budaya, pihaknya merencanakan penyusunan kajian mendalam terkait sejarah tokoh Ki Demang Cokrodikromo. Hal itu untuk menambah literasi terkait historis Ki Demang.

"Mengintegrasikan pendidikan budaya adat tradisi, untuk lebih menguasai sejarah ketokohan Ki Demang," katanya. (oso/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#dinas kebudayaan #Ki Demang #Sleman #Mbah Demang #Pendidikan budaya #kalender even #Kundha Kabudayan #DIY #rokoh radikal #suran mbah demang #Gamping #Kabupaten Sleman #Ki Demang Cokrodikromo #Warisan Budaya Takbenda #wbtb #Banyuraden