Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Tradisi Malam Satu Suro atau Muharam di Keraton Yogyakarta, Apa Saja Lakunya?

Meitika Candra Lantiva • Jumat, 27 Juni 2025 | 21:17 WIB
Ritual Lampah Madya Ratri Hajat Kawula Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk meperingati Tahun Baru Islam, Jumat (27/6/2025) dini hari.
Ritual Lampah Madya Ratri Hajat Kawula Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk meperingati Tahun Baru Islam, Jumat (27/6/2025) dini hari.


RADAR JOGJA - Bagi masyarakat Jawa, tradisi malam Satu Suro bukanlah hal asing lagi.

Malam Satu Suro menandai datangnya tahun baru Saka atau dalam kalender Hijriyag disebut juga satu Muharam.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa, malam Satu Suro merupakan malam yang sakral.

Terutama bagi masyarakat Yogyakarta dan Surakarta.

Sebab, pada malam pergantian tahun baru Islam tersebut, terdapat sejumlah prosesi perayaan yang rutin dilakukan.

Antara lain, jamasan pusaka, mubeng beteng, tapa bisu atau laku bisu, dhahar kembul menyantap bubur suran dan lain-lain.

Berikut prosesi peringatan malam Satu Suro dan bulan Muharam di Yogyakarta:

Jamasan Pusaka

Jamasan pusaka menjadi tradisi yang dilakukan saban Suro.

Jamasan sama halnya siraman. Jamasan pusaka berarti pembersihan pusaka dengan cara dibasuh dan disiram dengan melalui ritual tertentu.

Jamasan pusaka selalu digelar oleh Keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Namun pada masyarakat Jawa, budaya jamasan pusaka masih dilakukan.

Baca Juga: Manajer PSIM Jogja Ungkap Alasan Mendatangkan Nermin Haljeta: Dia Adalah Pemain Paket Komplit

Jamasan pusaka tujuannya untuk merawat benda bersejarah sekaligus menghormati leluhur.

Adapun benda-benda pusaka, berupa tosan aji (senjata), keris, gamelan, dan lain-lain.

Umumnya jamasan dilakukan di saban malam Jumat Kliwon pada bulan Suro atau Muharam.

 

Mubeng Benteng

Mubeng benteng dalam Bahasa Indonesia yaitu mengelilingi Beteng Keraton.

Mubeng Beteng dilakukan dengan mengitari kawasan beteng Keraton Yogyakarta berlawanan arah jarum jam.

Tradisi ini diikuti oleh para abdi dalem serta masyarakat umum untuk berjalan tanpa bicara (laku bisu) serta tidak menggunakan alas kaki.

Sebelum pelaksanaan acara Mubeng Beteng, pihak keraton akan melakukan pembacaan doa untuk akhir tahun, doa awal tahun, serta doa bulan Suro.

Selanjutnya, prosesi disambung dengan pemberian restu dari pemangku agama Keraton Yogyakarta.

Adapun Rutenya, melingkupi area Keben (Kamandengan Lor) Keraton Ngayogyakarta – Ngabean – Pojok Beteng Kulon – Plengkung Gading – Pojok Beteng Wetan – Jalan Ibu Ruswo – Alun-Alun Utara – Keben dengan total jarak 4 kilometer.

Prosesi inidigear dengan Suasana hening, sunyi, dan khidmat.

Prosesi Mubeng Beteng ini menjadi momen untuk merefleksikan diri tentang apa yang terjadi dalam sepanjang tahun belakangan.

 

Tapa Bisu disebut Juga Laku Bisu

Dilakukan dengan khusuk saat mengitari Benteng Keraton Yogyakarta.

Saat menjalani laku, tidak diperbolehkan mengeluarkan suara, bebunyian dan lainnya.

Sebelum ritual ini dilaksanakan lebih dulu dilantunkan tembang macapat yang terselip doa dan makna serta harapan untuk tahun berikutnya.

Tradisi ini symbol refleksi sekaligus intripeksi diri meminta pengampunan atas dosa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagaimana tradisi laku bisu yang dilaksanakan pada Kamis (26/6/2025) malam di Keraton Yogyakarta.

Upacara Mubeng Benteng berlangsung khidmat, diikuti antusias masyarakat.

 

Dahar Kembul

Bukan hanya dari segi laku. Prosesi malam Satu Sura juga dilakukan dengan menikmati makanan bersama.

Setelah menjalankan seluruh prosesi, masyarakat bisa menyantap makanan dengan cita rasa tertentu.

Melansir dari ambarrukmo.com, dahar kembul dilakukan dengan menyantap Bubur Suran di area Keraton Yogyakarta.

Bubur Suran ini special memiliki cita rasa yang gurih cenderung manis.

Bubur Suran terbuat dari beras yang dibumbuhi santan, garam, serai dan jahe.

Adapun lauknya, seperti opor ayam, sambel goreng serta taburan tujuh jenis kacang.

Antara lain, kacang tholo, kacang bogor, kacang merah, kacang hijau, kacang kedelai, kacang mede dan kacang tanah.

Angka tujuh tersebut malambangkan jumlah hari dalam seminggu, yang mana setiap harinya senantiasa harus bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rezeki dan berkat yang diberikan.

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Muharam #beteng Keraton Yogyakarta #suro #Yogyakarta #surakarta #malam satu suro #Mubeng beteng #Jamasan Pusaka #Keraton Yogyakarta #sakral #tahun baru islam #masyarakat jawa #Keraton Ngayogyakarta #tradisi #Mengenal #Tapa Bisu #dahar kembul