Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sejarawan Sebut Jembatan Srandakan Lama Dibangun Pemerintah Kolonial Belanda untuk Jalan Lori Tebu Dukung Perekonomian

Fahmi Fahriza • Minggu, 16 Februari 2025 | 15:05 WIB

 

HARUS HATI-HATI: Masyarakat sekitar menjadikan tepi Kali Progo dekat Jembatan Srandakan sebagai jujukan anyar untuk menghabiskan waktu di kala sore hari.
HARUS HATI-HATI: Masyarakat sekitar menjadikan tepi Kali Progo dekat Jembatan Srandakan sebagai jujukan anyar untuk menghabiskan waktu di kala sore hari.
 

RADAR JOGJA - Jembatan Srandakan lama yang runtuh menimbulkan ragam respons dan spekulasi. Salah satunya terkait potensi dibongkarnya jembatan guna dibangun ulang dengan pondasi yang lebih kokoh.

Dari data yang ada, Jembatan Srandakan lama sudah berusia hampir satu abad, tepatnya dibangun medio 1929, pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rhoma Dwi Aria Yuliantri  mengungkapkan, jembatan itu berada di jalur lintas selatan yang merupakan penghubung dari Kulon Progo ke Srandakan, Bantul.

Dari yang diingatnya, sejak Rhoma masih kecil, jembatan itu sudah dipakai sebagai bagian aktivitas masyarakat. Sebagai jalan penghubung dan Sungai Progo di bawahnya juga sering dijadikan bagian aktifitas warga, termasuk mencari ikan.

"Kebetulan nenek saya tinggal di Brosot, tidak jauh dari Jembatan Srandakan tersebut," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (14/2/2025).

Disebutkan, pemerintah kolonial membangun fasilitas jalan, rel kereta api dan jembatan untuk mendukung perekonomian termasuk perkebunan.

"Di masa kolonial daerah itu perkebunan. Tak heran jika jembatan itu dibangun oleh kolonial untuk memudahkan transportasi," ungkapnya.

Salah satu fakta soal Jembatan Srandakan adalah difungsikan sebagai jalur rel kereta api untuk mengangkut tebu dari Pabrik Gula Sewu Galur di Kulon Progo, menuju Stasiun Palbapang di Bantul.

Dari segi fungsional dan nilainya, Rhoma berpandangan jembatan itu bisa disebut sebagai warisan budaya yang memiliki memori historis.  "Jika menjadi warisan budaya dengan nilai khusus, tentu perlu diselidiki kembali," tuturnya.

Lebih lanjut soal potensi Jembatan Srandakan yang dibongkar, Rhoma menilai sekiranya perlu ada dokumentasi, cerita, hingga rentetan peristiwa yang menghimpun jembatan tersebut.

 

"Kalau narasi tentang Jembatan Srandakan saya pikir sudah ada dalam beberapa karya sejarah, tetapi mungkin tidak secara khusus. Dokumentasi saya pikir menjadi perlu dan penting sebagai arsip, untuk menyimpan ingatan dan sumber informasi," tambahnya.

Selanjutnya, sebagai seorang pengamat sejarah, sekaligus orang yang bersinggungan dengan dekat lokasi jembatan, Rhoma berujar memiliki banyak cerita tentang jembatan itu. Mulai dari sejak dahulu ia sering mendengar kakeknya yang bercerita bahwa ada orang hanyut ketika air naik, dan ada pula orang yang terjun bunuh diri.

Namun, kata Rhoma, bukan itu bagian paling menariknya. Ia menyampaikan, salah satu hal yang paling menarik adalah bagaimana arsitektur dan bangunan itu bisa bertahan dan hadir lebih dari 90 tahun, meski sekarang kondisinya runtuh.

"Kalau dibayangkan sudah berapa kendaraan, berapa orang dan berapa generasi yang melintasi jembatan itu," paparnya. (iza/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#universitas negeri yogyakarta #potensi #Pabrik Gula Sewu Galur #runtuh #spekulasi #Jembatan Srandakan #sejarawan #Stasiun Palbapang #dosen #Ilmu sejarah #UNY #jembatan #respons #Brosot