Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jembatan Srandakan Lama Jadi Saksi Bisu Perjalanan Waktu, Berkesan bagi Warga Sekitar

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 16 Februari 2025 | 17:10 WIB

 

 

Jembatan Srandakan 1 yang konstruksinya sudah tak lagi kokoh
Jembatan Srandakan 1 yang konstruksinya sudah tak lagi kokoh

RADAR JOGJA - Jembatan Srandakan lama atau yang sering disebut Jembatan Srandakan 1 membentang di Sungai Progo, menghubungkan daerah Srandakan (Bantul) dengan Galur (Kulon Progo). Selama satu abad  jembatan itu memudahkan akses transportasi masyarakat sekitar.

Mengutip berbagai sumber, jembatan ini mulai dibangun tahun 1925 dan diresmikan tahun 1929. Awalnya jembatan difungsikan sebagai jembatan kereta pengangkut tebu atau lori. Panjangnya sekitar 531 meter. Bagian bawah jembatan terdapat delapan buah tiang beton.

"Dulunya itu jembatan cuma untuk lori membawa tebu di zaman Belanda. Lalu diperlebar lagi untuk sepeda dan sebagainya," ungkap Dukuh Bendo, Partoni saat dikonfirmasi Radar Jogja, Jumat (14/2/2025).

Jembatan pada 1951 beralih fungsi menjadi jalan raya. Beberapa komponen jembatan pun telah diganti dan diperbarui. Tahun 1962, lantai jembatan yang semula kayu diganti menjadi beton. "Saya belum lahir waktu dialih fungsikan untuk penghubung Bantul dan Kulon Progo," jelasnya.

Ia mengatakan, jembatan itu dulu menjadi akses utama warga Bantul, terutama bagi mereka yang bersekolah atau bekerja di Kulon Progo. Ia juga merupakan bagian dari pengakses jembatan ketika masa-masa sekolah. "Dulu banyak yang jalan-jalan, ada yang tambang pasir manual,"  bebernya.

Pada 2000 beberapa pilar jembatan sempat ambles. Seingatnya saat itu hanya kendaraan ringan yang boleh melintasi jembatan. Sebagai warga lokal, ia bersama warga lain lalu inisiatif meminta biaya seikhlasnya untuk jasa membantu warga yang hendak lewat. "Sempat jadi mata pencaharian baru warga sekitar," ujar pria kelahiran 1983 itu.

Ia berharap, Jembatan Srandakan 1 bisa tetap dilestarikan. Terlebih bisa digunakan untuk transportasi mendukung jembatan yang baru. "Yang penting jembatan lama masih ada, karena mengandung nilai historis,"  tambahnya.

Panewu Kapanewon Srandakan Sardjiman mengatakan, kisah dan sejarah jembatan itu sangat panjang. Terlebih tahun ini usia jembatan memasuki tahun ke 100. "Tahun 2001 itu berdasarkan beberapa sumber juga ada perbaikan di hilir sungai," ujarnya.

Karena usia jembatan yang sudah tua, kemudian di tahun 2005-2007 dibangunlah Jembatan Srandakan 2 yang lokasinya berdekatan. Jembatan baru memiliki panjang 626.75 meter.

"Pada waktu pembangunan Jembatan Srandakan 2, Jembatan Srandakan 1 direncanakan untuk dibongkar, namun tidak jadi," ungkapnya.

Rencana dilakukan pembongkaran karena struktur jembatan sudah termakan usia. Selain itu jembatan tersebut juga dinilai membahayakan jembatan baru dari segi penambahan gerusan dasar sungai.

"Adanya Jembatan Srandakan 1 bukan hanya sekadar penghubung, tetapi juga saksi bisu perjalanan waktu,"  terangnya.

Setelah tidak dilewati kendaraan, jembatan difungsikan oleh masyarakat untuk menjemur enceng gondok, padi, dan hasil panen lainnya. "Jembatan Srandakan 1 akan selalu menjadi bagian dari sejarah yang tak terlupakan bagi masyarakat sekitar," ujarnya. (oso/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#warga #Jembatan Srandakan #srandakan #Kulon Progo #Jembatan Srandakan 1 #akses transportasi #Bantul #struktur #galur #jembatan #Jembatan Srandakan 2 #sungai progo