RADAR JOGJA - Jembatan Srandakan yang menghubungkan Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Kulon Progo saat ini ada dua unit. Namun dari keduanya hanya ada satu unit yang dioperasikan yakni Jembatan Srandakan 2 yang beroperasi sekitar 2003. Jembatan lama konstruksi bangunannya masih ada, meskipun sebagian runtuh beberapa pekan lalu.
Pascajebolnya Dam Srandakan, jembatan itu ditutup sepenuhnya, tidak boleh dilewati warga. Padahal di masa silam Jembatan Srandakan lama ini menjadi satu-satunya penghubung Bantul dengan Kulon Progo. Warga sekitar tentu memiliki pengalaman yang banyak terhadap jembatan ini.
"Waktu saya SMP, jembatannya masih pakai kayu jati, bukan cor,” ungkap Agus Suryana, Jumat (14/2/2025). Pria berusia 66 tahun ini rumahnya terletak tepat di sisi timur jembatan yang melintasi Kali Progo itu. Tepatnya di Padukuhan Srandakan, Trimurti, Srandakan, Bantul.
Kepada Radar Jogja dia menceritakan hiruk-pikuknya ketika SMP selalu melalui jembatan itu. Hal ini lantaran sekolahnya yang berada di Brosot, sehingga harus menyeberangi jembatan yang ketika tahun 1970-an masih kerangka kayu jati. Menurutnya, Jembatan Srandakan saat itu merupakan sisa pembangunan dari zaman Belanda.
"Akhirnya diganti pakai cor karena kayunya mulai keropos, cuma tahunnya saya lupa,” sambungnya. Meskipun pakai kayu jati, kala itu kuat walaupun saat dilalui bergetar. Suryana mengungkapkan, ketika masih kayu jati sistemnya buka tutup karena lebar jembatan tidak sampai tiga meter.
Saat itu jumlah mobil yang masih terbatas sehingga mayoritas dilalui sepeda motor dan sepeda onthel. Kendaraan berat pun dibatasi lewat dan memang sangat terbatas jumlahnya saat itu. “Dahulu yang paling banyak sepeda. Jadi tidak buka tutup, kalau sepeda jalan terus,” tuturnya.
Lambat laun jembatan diganti dari konstruksi kayu jati menjadi cor. Lebar jembatannya pun bertambah lebih dari tiga meteran sedikit. Dari jembatan masih pakai kayu jati hingga cor Agus Suryana tidak pernah khawatir melintasinya. “Bahkan pas jembatannya sudah dengkleng masih digunakan untuk lewat,” tuturnya.
Selain itu, ada juga Sunarto yang mengalami Jembatan Srandakan lama dari kayu jati hingga cor-coran. Menurutnya, dahulu ketika masih pakai kayu jati tetap kuat karena sedimentasi pasirnya cukup banyak dari aliran air Kali Progo masih merata ke seluruh bagian.
Bahkan saat masih pakai kayu jati itu, air Kali Progo pernah membanjiri jembatannya dan aman-aman saja. “Waktu masih kayu jati kalau lewat pakai sepeda bunyi gledek-gledek,” tuturnya. Pria berusia 60 tahun itu mengungkapkan, ketika konstruksi jembatannya sudah dicor merasa lebih aman untuk melaluinya.
Namun, karena lambat laun makin banyak penambangan pasir di tepi Kali Progo hingga membuat sedimentasi pilar jembatan ringkih. "Dulu penambang pasir tidak sebanyak sekarang,” tegasnya. Kini pasir yang dikeruk dari Kali Progo banyak, karena pakai truk, sedangkan dulu belum ada kegiatan tersebut. (rul/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita