MAGELANG - Puluhan arsip, foto, sketsa, dan berbagai peninggalan warga etnis Tionghoa mejeng di setiap sudut dinding Loka Budaya Sukimin Adiwiratmoko. Pameran berbagai arsip itu menjadi bagian dari kegiatan yang bertajuk 'Djelajah Petjinan #6'. Kegiatan itu rutin digelar menjelang Tahun Baru Imlek, mulai 25-29 Januari 2025.
Di setiap sudut dinding, terdapat potret arsip, foto, dan sketsa lawas warga etnis Tionghoa. Pengunjung akan dibuat takjub dengan poret yang belum pernah dijumpai. Bahkan ada kebaya dan jarik tempo dulu yang masih terawat. Kesan tradisional dari kebaya dan jarik itu seolah menyatu dengan ruangan.
Menariknya, ada berbagai artefak yang ditampilkan. Termasuk alat untuk membuat rokok dengan cara dilinting. Sunyi menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk menyelami jejak sejarah warga etnis Tionghoa. Baik di Magelang maupun daerah lain.
Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana menjelaskan, kegiatan ini dihelat untuk mengenal sejarah dan budaya peranakan Tionghoa. Ada beberapa kegiatan yang digelar untuk memeriahkan Djelajah Petjinan #6. Seperti pameran arsip, jelajah sejarah, bincang budaya, bincang sejarah, pemutaran film, dan bincang Pecinan.
Bagus mengatakan, pameran arsip, foto, sketsa, dan artefak ini merupakan koleksi dari seorang peranakan Tionghoa Haris Kertorahardjo. Total sekitar 120 item. "Kami ingin memberikan nilai dan manfaat. Tidak hanya sekadar pameran, tapi juga ada nilai edukasi," ujarnya di Loka Budaya Sukimin Adiwiratmoko, kemarin (28/1).
Dia menyebut, sedikitnya ada lebih dari 200 koleksi yang ditampilkan dalam Djelajah Petjinan #6. Mulai dari koran, buku, sketsa, foto, hingga pakaian. Koleksi itu dibagi di tiga ruang dengan tiga tema berbeda. Ruang pertama bertemakan keluarga yang menampilkan hubungan sebuah keluarga, termasuk kebaya encim --salah satu warisan peranakan Tionghoa.
Lalu, di ruang kedua bertemakan pernikahan. Di sana, ada arsip terkait budaya etnis Tionghoa. Bahkan, ada kartu tanda penduduk (KTP) milik warga Tionghoa. "Ada juga yang menceritakan bagaimana kiprah Tionghoa dalam melestarikan budaya Jawa, khususnya wayang orang," sebut Bagus.
Sementara ruang ketiga dipenuhi dengan arsip foto soal pemakaman warga etnis Tionghoa. Dia menyebut, foto-foto yang ditampilkan itu sangat eksklusif. "Pada zaman itu, hanya orang-orang kaya yang bisa memiliki foto seperti itu (pemakaman). Fotonya tidak hanya dari Magelang, tapi juga Kebumen, Semarang, banyak sekali," tambahnya.
Selain memamerkan arsip dan foto, Bagus juga mengajak 50 warga Magelang untuk menyelami jejak sejarah peranakan Tionghoa melalui kegiatan jelajah sejarah. Ada beberapa lokasi yang dituju. Pertama, di SMK Wiyasa yang merupakan bekas Hollandsche Chineesche School (HCS).
Di HCS, lanjut Bagus, warga etnis Tionghoa bisa bersekolah dengan layak dan mendapat pembelajaran dengan bahasa Belanda. Setelah itu, para peserta diajak menuju sebuah pabrik kecap legendaris bernama Kidang Jantra di Kelurahan Kemirirejo, Magelang Tengah. "Produk kecap merupakan warisan peranakan Tionghoa," ucapnya.
Selanjutnya, Bagus mengajak peserta ke rumah bekas Oei Hong Kian yang merupakan dokter gigi Presiden Soekarno. Lalu, perjalanan dilanjutkan menuju gedung Yayasan Dana Kematian Dharma di Rejowinangun Selatan. Yayasan ini merupakan lembaga sosial yang kala itu melayani warga etnis Tionghoa yang mengalami kesusahan. (laz)