JOGJA - Korek api menjadi salah satu kebutuhan penting bagi manusia hingga saat ini. Manusia membutuhkan korek api untuk berbagai kegiatan, mulai memasak hingga kebutuhan lain.
Korek api sendiri memiliki sejarah yang tua seperti kehidupan manusia di muka bumi. Ada berbagai macam korek api tercipta dari zaman purba hingga modern seperti saat ini. Salah satunya adalah korek api yang menggunakan sumbu.
Salah sorang tukang servis korek asal Jogja, Nanto menjelaskan, korek api sumbu dulu banyak ditemui sekitar tahun 1990-an. Kebanyakan korek api sumbu dipakai para petani di pedesaan untuk menyalakan rokok lintingan.
"Orang-orang kota tidak mau pakai itu, karena kondisinya sangat beda. Harganya korek sumbu itu juga murah," katanya saat ditemu Radar Jogja di kediamannya, Jumat (10/1).
Menurut Nanto, korek sumbu dulu berbahan bakar bensin. Tidak seperti minyak yang sekarang dipakai pada korek-korek masa kini. Perangkatnya ada sumbu, minyak, batu, dan kapas. Sumbu dan kapasnya juga bisa diganti sendiri jika telah habis.
Korek zaman dulu yang memakai sumbu itu merupakan korek yang sekali pakai dan tidak bisa direparasi. Sebab, korek itu cuma bisa diisi ulang bahan bakarnya saja. Jadi tingkat kerusakannya pun juga sangat minim.
"Karena itu memang dipersiapkan untuk para petani di desa-desa. Kalau pun bisa direparasi, itu tidak cocok dengan biayanya. Ora cucuk (tidak impas, Red)," lontarnya.
Nanto mengatakan, korek sumbu itu kini sudah jarang ditemui dan tidak ada peminatnya. Kalau pun ada, itu hanya ada di desa-desa. Tetapi korek itu masih dijual hingga kini di toko-toko besi.
"Karena itu produk lama dan mungkin stoknya juga lama," jelas pemilik servis korek dan jam tangan Samijaya Service, di Jalan Basahan, Kadipaten Kidul RT 11, RW 03, Kraton, Jogja ini. (ayu/laz)
Editor : Heru Pratomo