Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gayung Cantol Jadi Alat Serbaguna sebelum Era 90-an, untuk Menakar Minyak Goreng hingga Minyak Tanah

Anom Bagaskoro • Minggu, 5 Januari 2025 | 13:30 WIB
Sri Mulyati, penjual minyak di Kulon Progo
Sri Mulyati, penjual minyak di Kulon Progo

 

 

Sebelum marak minyak goreng kemasan dan minyak sawit, masyarakat Indonesia akrab dengan minyak goreng kelapa. Saat itu, minyak kelapa dan kopra menjadi primadona. Selain bahan bakunya yang unik, penjualan minyak di zaman dahulu menggunakan gayung cantol.

Mantan pedagang minyak di era 90-an Sri Mulyati menceritakan kenangannya berjualan minyak menggunakan gayung cantol. Gayung cantol atau sering disebut canting minyak merupakan alat takar minyak. Alat ini berbentuk silinder dengan bagian atas memiliki pegangan berbentuk melengkung.

Fungsi pegangan tidak hanya untuk membantu mengangkat canting. Namun memiliki fungsi sebagai pengait canting saat tidak digunakan. Hal inilah yang menyebabkan penamaan cantol tersemat pada alat ini. "Bisa dibilang alat ukut dan takaran terpercaya saat itu,"  ucap Sri saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Jumat (3/1).

Mantan pedagang sembako sejak tahun 1990 hingga 2005 ini menyampaikan, gayung cantol digunakan untuk menakar minyak. Tak hanya minyak goreng, minyak tanah biasanya juga ditakar menggunakan canting sebelum diberikan ke pembeli. Beberapa penjual bahkan juga memodifikasi gayung cantol untuk digunakan sebagai takaran beras.

Menurutnya, gayung cantol sudah ada sejak zaman orangtuanya. Lantaran gayung cantol yang digunakan saat berjualan itu merupakan peninggalan orang tua. Sebagai penjual, dirinya memiliki empat jenis gayung cantol berdasarkan ukurannya. Ukuran gayung cantol berdasar 1 liter, 3/4 liter, 1/2 liter, dan 1/4 liter.

Sebagai pengguna gayung cantol, dirinya hafal dengan kualitasnya. Menurutnya, canting berkualitas berbahan besi dan dilapisi anti karat. Di zaman itu, banyak canting yang mudah berkarat walaupun digunakan untuk menakar minyak.

Salah satu indikator bahan yang bagus berupa suara canting apabila dipukul cenderung kedap dan tak nyaring. Biasanya canting yang awet akan ditempeli label logam berwana kuningan. "Untuk minyak goreng sendiri, minyak tanah sendiri. Jadi memang dulu ada banyak gayung," ujarnya.

Sri menjelaskan, saat itu gayung cantol dipercaya sebagai alat takar literan paling pas. Bahkan penjual minyak akan menakar langsung di depan pembeli. Biasanya pedagang yang menakar dengan gayung di depan pembeli dianggap terpercaya. Alhasil, penjual yang menggunakan gayung cantol akan lebih banyak dikunjungi pembeli.

Selain menarik minat pembeli, gayung cantol dinilai praktis apabila dibandingkan gayung takar lainnya. Lantaran pegangan cantolan tak membuat tangan kotor terkena bekas minyak. Selain itu, penyimpanan gayung hanya cukup dikaitkan di wadah tempat minyak di simpan. Sehingga praktis apabila ada pembeli yang datang.

Gayung cantol mulai terdegradasi zaman setelah muncul minyak kelapa sawit. Sekitar tahun 2000 minyak curah kelapa sawit menggeser minyak kelapa dan kopra. Saat itu penggunaan canting masih digunakan sebagian pedagang yang menjual minyak curah. Namun, munculnya minyak sawit dalam kemasan mulai menggeser eksistensi canting.

Tak langsung menghilang dari peredaran, canting masih digunakan untuk menakar minyak tanah. Namun, eksistensi mulai memudar setelah kebijakan penggunaan gas LPG. Sehingga, gayung cantol saat ini sulit ditemukan kembali. (gas/laz)

 

Editor : Din Miftahudin
#minyak goreng #pedagang #takaran air #minyak tanah