JOGJA - Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran adalah salah satu gereja bersejarah di Kota Jogja. Bentuk gedungnya khas. Berlainan dengan bangunan gereja lain di generasinya.
Gereja yang terletak di Jalan Bintaran Kidul, Jogja ini diresmikan pada 1934 oleh Romo ATh Van Hoof SJ. Gereja Bintaran sendiri menjadi gereja Jawa atau gereja pribumi pertama di Jogja. Sejak awal pembangunannya, gereja ini memang dikhususkan bagi masyarakat Katolik Jawa di Jogja.
Sekretaris Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran Kris Indrarto menjelaskan, pada masa penjajahan Belanda, terjadi diskriminasi antara warga Belanda dan pribumi. Termasuk dalam hal tempat ibadah yang dipisahkan.
Pada saat itu, warga pribumi yang mengikuti ekaristi atau misa sering ditempatkan secara terpisah. Mereka tidak beribadah bersama orang Belanda. "Seiring waktu, jumlah umat pribumi semakin banyak, akhirnya dipindahkan ke gudang sebelah. Mereka tidak beribadah di dalam gedung gereja yang sama,” jelasnya Selasa (24/1/2024).
Antara Juli 1934 sampai Juni 1936, umat Bintaran berjumlah 4.695 orang. Sebanyak 26 orang di antaranya warga Eropa. Perbandingan ini menggambarkan bahwa Gereja Bintaran memang merupakan Gereja Katolik Jawa di Jogja.
Dalam 12 bulan itu, tercatat pembaptisan dewasa berjumlah 233 orang dan anak-anak mencapai 177 orang. Dari 1.429 anak kecil yang setia mengikuti pelajaran agama pada hari Minggu, 234 orang di antaranya diizinkan menyambut komuni pertama.
Pada periode perjuangan bersenjata antara 1942 sampai 1949, Gereja Bintaran mengalami cobaan yang cukup besar. Banyak Romo terpaksa harus masuk kamp tawanan, bahkan dilarang melaksanakan kegiatannya.
"Dalam situasi semacam itu, aula Paroki Bintaran sering menjadi tempat berlangsungnya kongres dan berbagai rapat. Bahkan juga sebagai markas darurat,” ujar Kris.
Monsinyur Albertus Soegijapranata setelah ditahbiskan menjadi Uskup Semarang juga sempat berkantor dan tinggal di Bintaran pada 1947 hingga 1949. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan moral kepada Bung Karno dan para petinggi negara pada saat Agresi Militer I dan II yang dilakukan Belanda.
"Pada masa itu ibu kota negara dipindah dari Jakarta ke Jogja. Presiden Soekarno pernah berkunjung ke Paroki Bintaran untuk mengadakan pertemuan dengan Monsinyur Soegijapranata,” kata Kris.
Seluruh bangunan Gereja Santo Yusup Bintaran ini terbagi ke dalam empat bangunan utama. Yaitu gedung gereja, panti paroki, gedung komunikasi sosial keuskupan, dan pastoran.
Gereja ini juga menyimpan cerita tentang kunjungan wakil Paus dari Vatikan dan Ir Soekarno. Saat Soekarno diasingkan ke Bangka pada 1947, istrinya Fatmawati kemudian diungsikan ke Gereja Bintaran. Hal ini dilakukan untuk melindungi Fatmawati dari serdadu Belanda.
Kris menerangkan, dalam perjalanannya, aula Gereja Bintaran juga pernah dimanfaatkan sebagai sekolah, yakni SMA Kolese De Britto pada 1947. Bagian yang digunakan adalah bagian aula serta ledok di sebelah barat gereja.
Di samping itu, pihak gereja membolehkan masyarakat sekitar untuk menggunakan fasilitas gereja selama tidak ada jadwal ibadah. Misalnya sebagai tempat pengungsian pada saat banjir hingga persemayaman jenazah.
"Itu sudah berlangsung lama sejak dulu. Apalagi tempat ini juga jadi lokasi pengungsian untuk saudara kita yang terkena banjir. Kami sudah maklum. Mereka tidak perlu minta, kami sudah bantu," kata Kris.
Partisipasi Gereja Bintaran dalam membangun masyarakat terlihat dalam keikutsertaan umat Bintaran dalam Partai Katolik pada 1950-an yang dipimpin CO Tjiptosumarta.
Sementara pada waktu pergolakan G30S PKI, Gereja Bintaran menjadi markas Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKI) dan Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).
Salah satu kegiatan sosial di Gereja Bintaran adalah sewaktu umat berhasil menghimpun pemberangkatan transmigran menuju Lampung. Juga kegiatan lain seperti kursus menjahit bagi para ibu dan kursus sosial ekonomi yang diprakarsai Badan Oesaha Wanita Katolik (BOWK). (tyo/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita