Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Papilon Pertama Pakai Videotron, One Night in Jogja Jadi Program Monumental 

Khairul Ma'arif • Minggu, 15 Desember 2024 | 15:50 WIB
Diskotek Papilon
Diskotek Papilon

 

JOGJA - Generasi sekarang mungkin sangat asing dengan nama Papillon. Namun bagi generasi yang besar di era 90-an hingga awal 2000-an akhir, sangat mengenali Papillon. Pasalnya, kelab malam ini merajai di Jogja dan jadi jujukan hiburan kalangan mudanya saat itu. 

Lokasinya yang berada di tengah pusat Kota Jogja, tepatnya di Jalan Mayor Suryotomo, memudahkan akses bagi pengunjungnya. Namun kini bangunannya sudah tidak ada lagi. Berganti rupa dan berganti lini usaha. 

Isnur Dewoyono mencoba bernostalgia dengan cerita-cerita masa keemasan Papillon. Dia merupakan satu dari sekian banyak saksi hidup sepak terjang diskotek ini. Pasalnya, pria berusia 59 tahun itu sempat bekerja di sana sebagai manajer program selama empat tahun. 

"Papillon kelab malam terbesar dan pertama di Jogja yang menggunakan videotron, sehingga merajai pada zamannya," bebernya, Jumat (29/11). Videotron itu berukuran besar yang biasanya memutar film sebelum berpesta. Pesaingnya kala itu Crazy House yang beroperasi di Jalan Magelang. 

 

Dia menceritakan, program paling monumental saat bekerja yakni One Night in Jogja atau semalam di Jogja. Dewoyono mengatakan, program itu biasanya dibuka dengan pementasan tradisional sebelum DJ beraksi. Di antaranya jaipong dan seluruh tarian Nusantara. 

"Saya ingat betul saat itu diketawain oleh banyak kelab malam di Indonesia. Tetapi oleh bule banyak dicari," ucapnya. Pria yang dikenal dengan sapaan Dewo PLO mengungkapkan, kondisi itu membuat wisatawan mancanegara berdatangan karena perpaduan menarik antara kelab malam dengan budaya.

 

Bahkan, diklaimnya itu menjadi catatan sejarah kelab malam di Indonesia hingga menjadi percontohan. 

Papilon menjadi yang pertama menginisiasinya dan banyak yang hendak meniru. Menurutnya, saking digandrunginya Papillon membuat Jalan Mayor Suryotomo macet kala malam hari. "Papillon juga pernah bikin trust metal competition sukses dan meledak, karena kelab malam bikin metal," ungkapnya. 

Dewo PLO mengakui, kala itu membuat tamu reguler pergi tetapi produk minumannya habis semua. Itu karena banyak peminum dari kalangan penikmat musik metal. Acara ini hanya periodik saja, tidak secara reguler. 

"Kali pertama Dewa 19 manggung di Jogja itu ya di Papillon," tambahnya. Itu menjadi torehan lainnya yang dapat dilakukan Papillon. 

Masih sangat diingatnya kala itu bayarannya Rp 6 juta untuk sekali manggung yang nilainya sudah cukup besar saat itu. Namun, seiring berjalannya waktu papilon tidak dapat eksis. 

Dewo PLO menilai itu karena banyak pekerjanya sudah menua dan tidak diregenerasi. Kondisi ini ditambah banyaknya pesaing kelab malam yang berjamuran sehingga kondisinya bergeser. "Kalau orang yang pernah sekolah di Jogja medio 90-an hingga 2000-an, pasti tahu Papillon," tandasnya. (rul/laz)

Editor : Heru Pratomo
#anak muda #hiburan malam #Papilon #Diskotek #2000 #Jogja