JOGJA - Papillon, Dance and Night Club sempat berjaya di era tahun 80-an. Kelab malam yang berlokasi di Jalan Mayor Suryotomo, Kota Jogja, ini pernah menjadi rujukan kaum muda di masanya.
Bahkan popularitas kelab ini merambah bagian selatan Jogja. Sehingga Papillon semakin ramai hingga menjadi rujukan anak muda yang mayoritasnya berasal dari Jogja bagian selatan.
Iwa Ikhwanudin, salah seorang pengunjung Papillon menceritakan pengalaman mudanya saat berkunjung di sana. Iwa, sapaan akrabnya, menjelaskan, Papillon pernah berjaya di era 80 hingga 90. Saat itu belum banyak kelab malam yang bermunculan di Jogja.
Sehingga, Papillon menjadi tempat ideal untuk dikunjungi anak muda pada saat itu. "Dulu masih sedikit, bisa dihitung dengan jari. Jadi itu memang tempat rujukan," ucap Iwa, Jumat (29/11).
Masih jelas dalam ingatannya, masa jaya Papillon terjadi saat dirinya masih duduk di bangku SMA. Dan saat sudah lulus sekolah, ia menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana. Kunjungan pertamanya memberikan gambaran mengenai Papillon yang ramai dengan anak muda.
Mayoritas anak muda yang berkunjung berasal dari wilayah selatan Jogja. Menurutnya, jumlah kunjungan Papillon cukup banyak karena mampu menjangkau pasar. Anak muda yang saat itu tak memiliki dompet tebal, bisa mengunjungi Papillon. Lantaran, Papillon merupakan kelab malam kelas medium.
Sehingga, pasar mereka memang kebanyakan dari kalangan anak muda. "Satu yang teringat, begitu masuk bisa langsung ajojing," tuturnya.
Berbeda dengan kelab malam di masanya, Papillon membawa pengalaman suasana yang berbeda. Lantaran penempatan lantai dansa biasanya berada di basement.
Saat pengunjung Papillon masuk, akan langsung menemukan pungunjung lain yang tengah berjoget. Ruang dansa Papillon tak berada di area basement. Sehingga pengunjung tak perlu bersusah payah ke lantai bawah.
Iwa menyampaikan, Papillon bukanlah klab malam favoritnya. Lantaran, audio dalam ruangan tak sesuai dengan karakternya. Papilon menyuguhkan audio yang terkesan keras.
Memang tipe audio seperti ini cukup digemari anak muda di zamannya. Namun sebagian orang justru tak nyaman dengan audio yang cukup keras karena menambah suasana sesak.
Selain itu, Papillon memiliki ciri khas menyediakan minuman yang ramah di kantong mahasiswa. Iwa menceritakan, kebanyakan pengunjung papilon merupakan mahasiswa yang memang secara finansial memiliki keterbatasan. Sehingga, harga minuman di sana cenderung murah dibanding diskotek lainnya.
Biasanya pengunjung Papillon akan memesan minuman berbagai rasa yang dimasukkan ke dalam tower dispenser. Mereka sengaja memesan itu karena terjangkau serta bisa dinikmati bersama. (gas/laz)
Editor : Heru Pratomo