Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menggali Sejarah Muhammadiyah yang Berhasil Menginjak Milad ke-112

Meitika Candra Lantiva • Senin, 18 November 2024 | 21:14 WIB
Milad Muhammadiyah yang ke-112 tahun 2024 mengusung tema “Menghadirkan kemakmuran Untuk Semua”.
Milad Muhammadiyah yang ke-112 tahun 2024 mengusung tema “Menghadirkan kemakmuran Untuk Semua”.

RADAR JOGJA – Muhammdiyah memperingati hari jadinya setiap 18 November.

Tahun ini Muhammadiyah memperingati milad ke-112 pada Senin (18/11/2024).

Berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 431/KEP/I.0/B/2024, Milad Muhammadiyah yang ke-112 tahun 2024 mengusung tema “Menghadirkan kemakmuran Untuk Semua”.

Mengutip dari suaramuhammadiyah.id, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI dalam Resepsi Milad Muhammadiyah ke-112 dan Universitas Muhammadiyah Kudus, Jawa Tengah (UMKU) ke-26, Sabtu (16/11/2024) di Crystal Building UMKU mengatakan, tema ini sebagai manifestasi dari bentuk ikhtiar Muhammadiyah dalam menyelesaikan pelbagai permasalahan ekonomi di Indonesia.

Mengutip dari laman resmi Muhammadiyah, Muhammadiyah merupakan organisasi sosial-keagamaan Islam modernis terbesar dan tertua di Indonesia.

Muhammadiyah bergerak di ranah pendidikan, kesehatan, filantropi, dan pemberdayaan sosial secara independen serta terpercaya.

Muhammadiyah berdiri pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau bertepatan pada tanggal 18 November 1912 di Kauman, Kota Jogja.

Pendirian Muhammadiyah diawali oleh keberadaan Sekolah Rakyat bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada awal tahun 1912.

Madrasah ini mengadakan proses belajar-mengajar pertama kali di dengan memanfaatkan ruangan berupa kamar tamu di rumah KH. Ahmad Dahlan

Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan tanpa bantuan dan sumbangan dana orang lain.

KH Ahmad Dahlan mengandalkan harta bendanya untuk mewujudkan lembaga pendidikan Islam modern yang dibayangkannya.

Seiring waktu, kala berdiskusi dengan para santri dan muridnya dari Kweek School Jetis, KH Ahmad Dahlan mendapat dorongan tambahan agar membentuk organisasi yang diharapkan akan menjaga keberlanjutan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah.

Organisasi itu bernama Muhammadiyah, dengan harapan agar para anggotanya dapat meneladani Nabi Muhammad SAW.

Setelah melewati proses pengajuan yang sulit dan memakan waktu lama, dengan terbitnya Besluit pada 22 Agustus 1914 No.81, akhirnya Muhammadiyah sebagai Badan Hukum diakui oleh Pemerintah Hindia-Belanda.

Pada masa awal pendirian, aturan yang ditetapkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda membatasi ruang dan gerak Muhammadiyah.

Setelah mendapat persetujuan dari Pemerintah Hindia-Belanda, KH Ahmad Dahlan menjadi leluasa dalam memperluas misi dakwahnya.

KH Ahmad Dahlan pergi berceramah di berbagai tempat dan mengajak kaum muslimin untuk mengamalkan Islam yang membebaskan umatnya dari kejumudan, kebodohan, dan berorientasi pada amal saleh.

KH Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah sejak tahun 1912 dan berakhir ketika wafat pada 1923.

Dari awal hingga setengah abad berikutnya, kepemimpinan di Muhammadiyah dilanjutkan oleh Kyai Haji Ibrahim pada tahun 1923 hingga 1931.

Kemudian Kyai Haji Hisyam pada 1931 hingga 1936, Kyai Haji Mas Mansyur pada 1936 hingga 1942, dan Ki Bagus Hadikusuma pada tahun 1942 hingga 1953. (Yasminun Ardine Issudibyo)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#sejarah Muhammadiyah #menggali #sejarah #Milad ke 112 #Pimpinan Pusat Muhammadiyah #milad