Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Saat Jadi Kurir pada Masa Kemerdekaan, Ibu Ruswo Simpan Surat Penting di Dalam Stang Sepedanya

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 10 November 2024 | 13:30 WIB

 

Nama Peran Ibu Ruswo lekat dengan masa revolusi fisik di JogJakarta. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan
Nama Peran Ibu Ruswo lekat dengan masa revolusi fisik di JogJakarta. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan

RADAR JOGJA - Peran Ibu Ruswo lekat dengan masa revolusi fisik di JogJakarta. Ia aktif mengorganisasi dapur-dapur umum di setiap kantong pasukan republik.

Kabid Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) DIY Tri Susilastuti mengatakan, pada perang Gerilya, Ibu Ruswo mempunyai peran pengendali pasokan logistik. Bersama ibu-ibu lainnya, mereka menyiapkan logistik untuk dibagikan ke prajurit atau pejuang.

"Selama masa perang gerilya berbagai peran dilakukan Ibu Ruswo bersama suaminya, Pak Ruswo.  Mereka berdua aktif sebagai kurir penyampaian pesan baik tulisan maupun kurir lisan," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (8/11/2024).

Untuk menjaga keamanan surat pesan yang dibawanya, Ibu Ruswo menyimpan rapat surat-surat penting itu di dalam stang sepedanya. Tak hanya itu, stang tersebut lalu ditutupi lagi dengan karet pegangan, agar lebih aman.

"Sangat cerdik dan  tangkas serta berani keluar wilayah dan berpapasan tentara Belanda secara langsung, jiwa dan raganya ikut berjuang untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia," tuturnya.

Menurut informasi yang ia dapatkan, Ibu Ruswo juga pernah bergabung dengan Komite Pembela Buruh Perempuan Indonesia. Perkumpulan itu fokus  pada pembelaan terhadap hak-hak perempuan.

"Keberhasilan Ibu Ruswo yakni pemenuhan logistik prajurit di Jogjakarta, Magelang, Ambarawa hingga Semarang," bebernya.

Dengan pencapaian itu, Ibu Ruswo lalu mendapatkan piagam penghargaan dari Panglima Divisi III. Piagam tersebut diberikan pada saat apel Besar di Magelang pada tanggal 25 Mei 1947. Setelah penghargaan itu, Ibu Ruswo dianugerahi Bintang Gerilya oleh Pemerintah Republik Indonesia yang diberikan oleh Presiden Soekarno di Keraton Jogja.

"Ibu Ruswo gugur pada tanggal 28/8/1960 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara di Blok D dengan Nomor 1.125," jelasnya.

TMP Kusumanegara merupakan Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) yang berfungsi sebagai wujud penghormatan dan penghargaan terhadap jasa-jasa para pahlawan/Pejuang. Selain itu juga sebagai sarana pelestarian nilai kepahlawanan, keperintisan, dan kesetiakawanan sosial, sebagai tempat studi dan wisata ziarah.

"Jumlah pahlawan/pejuang yang dimakamkan di TMPN Kusumanegara sampai saat ini sudah ada sekitar 2.035 makam, termasuk Ibu Ruswo," terangnya.

Sebagai bentuk penghargaan dan pengingat, nama Ibu Ruswo dijadikan nama jalan dari timur Alun-Alun Utara hingga sebelum Jalan Brigjen Katamso. Hal itu berkat usulan keluarga eks resimen 22 Wehrkreise III.

"Perubahan nama jalan melalui surat penetapan Wali Kota Madya pada tahun 1981. Jalan ini mengenang perjuangan para pejuang, ibu-ibu pejuang dan perempuan-perempuan pejuang yang rela berkorban untuk bangsa dan negara," tegasnya. (oso/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#tmp kusumanegara #Ibu Ruswo #perang #Belanda #pejuang #Dinsos DIY #logistik #Revolusi #surat #prajurit #Jogjakarta #Taman Makam Pahlawan Nasional #Indonesia