RADAR JOGJA - Pada pertengahan abad ke-18, terjadi peristiwa tragis yang dikenal sebagai Geger Pecinan, yaitu pembantaian besar-besaran terhadap etnis Tionghoa di Batavia oleh Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda (VOC).
Konflik antara etnis Tionghoa dan VOC berlangsung dari Oktober hingga November 1740, dengan sekitar 10 ribu korban dari komunitas Tionghoa, peristiwa yang mendapat restu langsung dari Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier.
Pembantaian ini dipicu oleh krisis ekonomi dan politik yang melanda VOC di Batavia pada akhir abad ke-17.
Saat itu, Batavia menjadi tujuan utama bagi pedagang dari Tiongkok, dan VOC awalnya membuka jalur imigrasi untuk mendukung perekonomiannya.
Namun, lambat laun, imigran Tionghoa menjadi sasaran pajak dan pemerasan.
Pada 1696, VOC memberlakukan pajak sebesar 15 ringgit bagi setiap imigran Tionghoa, yang menambah beban mereka dalam berdagang.
Jumlah warga Tionghoa di Batavia terus meningkat hingga mencapai hampir 30 persen dari total populasi pada 1719.
Namun, krisis keuangan VOC semakin parah pada 1738 akibat penurunan harga rempah dan persaingan dengan kongsi dagang Inggris (EIC).
Untuk mengatasi kesulitan ini, Valckenier mewajibkan imigran Tionghoa memiliki surat izin tinggal berbiaya dua ringgit, sementara imigran ilegal diperketat, terutama di Batavia dan wilayah sekitarnya seperti Tangerang dan Bekasi.
Ketegangan meningkat ketika VOC mulai merazia etnis Tionghoa besar-besaran.
Pada Juli 1740, VOC kembali melakukan razia dan menahan banyak orang Tionghoa yang dianggap mencurigakan, bahkan mengancam untuk membuang mereka ke Sri Lanka.
Kekhawatiran komunitas Tionghoa memuncak, dan pada September 1740, lebih dari seribu orang Tionghoa menyerang Pabrik Gula Gandaria, yang dipimpin oleh Kapitan Sepanjang.
Serangan ini memicu kekhawatiran di Batavia, terutama setelah negosiasi antara Valckenier dan Kapitan Sepanjang gagal.
Pemberontakan Tionghoa semakin parah pada 7 Oktober 1740, saat mereka menyerang pos-pos VOC, menewaskan 16 tentara Belanda.
VOC pun merespons dengan memberlakukan jam malam dan melucuti senjata warga Tionghoa.
Pada 9 Oktober 1740, VOC mulai menangkap dan membantai etnis Tionghoa, serta membakar rumah-rumah mereka dan merampas harta bendanya.
Perintah Valckenier untuk membantai tanpa pandang bulu memicu partisipasi budak dan pendatang dari Timur Tengah yang terpaksa ikut serta karena ancaman dari VOC.
Setidaknya 7 hingga 10 ribu orang Tionghoa menjadi korban dalam razia selama dua hari, dan mayat-mayat mereka dibuang ke sungai-sungai yang kemudian dikenal sebagai Kali Angke.
Pertempuran berlanjut hingga November 1740, dengan orang-orang Tionghoa yang bertahan melarikan diri ke wilayah sekitar seperti Pulo Gadung, Kampung Melayu, Tanjung Priok, dan Sukapura.
Peristiwa Geger Pecinan ini mengguncang politik di Jawa, memicu perlawanan dari etnis Tionghoa di wilayah lain terhadap VOC. (Dimas Dwi Prihatmoko)
Editor : Meitika Candra Lantiva