JOGJA - Ibu Ruswo menjadi salah satu tokoh pahlawan perempuan yang punya peranan sentral.
Perempuan asal Yogyakarta ini berperan besar mengakomodasi logistik bagi para pejuang di masa perang gerilya medio tahun 1940-an.
Sejarawan sekaligus dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rhoma Dwi Aria Yuliantri menyampaikan, kontribusi ibu Ruswo di sektor logistik sama sekali tak bisa dianggap remeh.
"Waktu itu, yang dilakukan Ibu Ruswo butuh keberanian, keahlian, dan kemampuan khusus dengan risiko tinggi. Tentu tidak semua orang bisa, dan mau menjadi kurir," katanya pada Radar Jogja, Sabtu (9/11/2024).
Rhoma berujar, di kalangan penikmat sejarah sekaligus pemerhati sejarah, nama ibu Ruswo sejatinya nama yang cukup dikenal familier.
Namun, ia juga menyadari bahwa masayakat umum dan anak zaman sekarang mungkin banyak yang tidak mengetahuinya.
"Saya pikir karena Ibu Ruswo tidak banyak meninggalkan tulisan, jadi sulit generasi saat ini untuk berkomunikasi dengan berbagai gagasan dan pemikirannya," ungkapnya.
"Kalau kita ingat banyak tokoh perjuangan yang punya tulisan dan masih bisa berkomunikasi dengan generasi saat ini," imbuhnya.
Padahal, jika menilik dari aspek semangat perjuangan, pengorbanan, hingga keberanian yang dilakukan.
Ibu Ruswo sudah selayaknya mendapat publikasi yang lebih masif.
Diakuinya, soal narasi atau literatur yang menceritakan soal ibu Ruswo, Rhoma menilai perlu adanya penyajian sejarah yang dekat dengan anak muda.
Hal tersebut jadi sebuah metode yang ideal untuk bisa relevan dengan generasi muda saat ini.
"Bisa dalam bentuk karya seni, atau kerja-kerja budaya dan teknologi yang lebih dekat dengan generasi kini," usulnya.
"Saya lihat narasi yang dikreasikan dan dihadirkan lebih dekat dengan anak-anak saat ini masih minim," sambungnya.
Perlu diketahui, Ibu Ruswo sendiri saat ini sudah menjadi salah satu nama jalan di Yogyakarta.
Secara pribadi, Rhoma mengapresiasi dan menilai hal tersebut memang seharusnya dilakukan.
"Nama Ibu Ruswo menjadi nama jalan saya pikir sangat sesuai, untuk tidak sekadar mengenang nama beliau tetapi lebih penting memaknai apa yang telah beliu sumbangkan untuk kita," pesannya.
Menyoal namanya, Ruswo sendiri sejatinya diambil dari nama sang suami, yakni Ruswo Prawiroseno. Sementara, nama asli ibu Ruswo adalah Khusna.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan penyebutan atau penggunaan nama ibu Ruswo, karena hal tersebut cukup lazim dilakukan di mana istri dipanggil dengan nama suami.
Namun, jika menilik dari perspektif perempuan, Rhoma berujar idealnya digaungkan dengan nama aslinya, yakni Khusna.
"Kalau dalam perspektif perempuan, saya pikir Khusna lebih menunjukan identitas diri daripada nama suami," tandasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva