RADAR JOGJA - Stasiun Tugu di Yogyakarta ternyata menyimpan cerita sejarah yang sudah berlangsung lebih dari seabad.
Tidak hanya sekadar tempat persinggahan kereta api, stasiun ini juga menjadi ikon arsitektur bergaya imperial, sebuah gaya khas abad ke-18 dan 19 yang menonjolkan keanggunan era kolonial.
Kesan megah tersebut langsung terlihat dari struktur bangunannya yang anggun, menggambarkan jejak masa lampau yang sarat dengan nilai historis dan sentuhan seni.
Berdasarkan berbagai literatur, termasuk "Kisah Tanah Jawa," Stasiun Tugu pertama kali dibuka untuk publik pada 12 Mei 1887.
Namun, proses pembangunan stasiun yang diinisiasi sejak 1885 ini tidaklah mudah dan diwarnai dengan cerita mistis.
Saat awal pembangunan, kawasan sekitar Stasiun Tugu masih rimbun dengan pepohonan beringin yang lebat.
Salah satu pohon beringin besar yang berdiri kokoh di depan pintu masuk terkenal sangat sulit untuk ditebang.
Pohon ini dikenal masyarakat setempat sebagai "Beringin Nyai Giri Kencono," sosok mistis yang konon dianggap sebagai penguasa gaib di area tersebut.
Masyarakat menggambarkan Nyai Giri Kencono sebagai makhluk dengan kepala manusia namun bertubuh macan.
Menurut cerita turun-temurun, sosok gaib Nyai Giri Kencono mengajukan suatu permintaan tumbal untuk merestui pembangunan stasiun.
Ia menginginkan kepala kerbau sebagai bagian dari upacara simbolik yang ditanam di lahan stasiun.
Lebih menyeramkan lagi, Nyai juga meminta tumbal berupa kepala dan jari manusia.
Korban manusia untuk tumbal ini dipilih langsung oleh sosok gaib Nyai dan biasanya berasal dari para pekerja yang direkrut pihak Kolonial Belanda dari masyarakat sekitar.
Misteri Stasiun Tugu tak berhenti di situ. Konon, prosesi penumbalan manusia dilakukan secara bertahap, dengan satu korban setiap bulannya hingga pembangunan stasiun selesai.
Meskipun kisah ini terdengar menyeramkan, Stasiun Tugu tetap berdiri megah hingga kini, menjadi saksi perjalanan sejarah Yogyakarta dan juga ikon bangunan tua yang mewakili pesona arsitektur kuno.
Dengan usia yang mendekati dua abad, Stasiun Tugu tidak hanya sekadar menjadi sarana transportasi utama di Yogyakarta tetapi juga menjadi warisan budaya dan kebanggaan masyarakat.
Di balik kemegahan bangunan ini, tersimpan berbagai kisah misteri yang menambah daya tariknya, baik dari segi historis maupun arsitektural.
Editor : Winda Atika Ira Puspita