RADAR JOGJA - Perang Dunia I dimulai pada 28 Juli 1914 dan berlangsung hingga November 1918, melibatkan banyak negara yang terbagi menjadi dua kubu: Sekutu (Inggris, Prancis, Rusia) dan Sentral (Jerman, Austria-Hungaria).
Di tengah perang, negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Italia, dan Jepang bergabung dengan Sekutu, sedangkan Turki dan Bulgaria berada di kubu Sentral.
Perang ini mencatatkan sejarah sebagai salah satu konflik paling berdarah, dengan total korban mencapai lebih dari 30 juta jiwa.
Pertempuran Somme, misalnya, merenggut sekitar 620 ribu nyawa dari Sekutu dan 1,7 juta dari Jerman.
Setelah Perang Dunia I, ketegangan kembali memicu konflik, dan Perang Dunia II meletus dari 1 September 1939 hingga 2 September 1945.
Perang ini dipicu oleh perseteruan antara Polandia dan Jerman.
Kubu Sekutu kali ini termasuk Uni Soviet, Inggris, Amerika Serikat, dan Tiongkok, sementara kubu Poros terdiri dari Jerman, Jepang, Italia, dan Thailand.
Korban jiwa dalam Perang Dunia II jauh lebih besar, diperkirakan mencapai 60 juta, bahkan hingga 100 juta jika termasuk yang tidak tercatat.
Dengan demikian, Perang Dunia II menjadi salah satu konflik paling mengerikan dalam sejarah.
Dari sejarah kelam ini, kita diingatkan tentang betapa pentingnya menjaga perdamaian dan hubungan antarnegara demi masa depan yang lebih baik.
Pada hari ini Tragedi 30 September 1965 di Indonesia, di mana terjadi pembunuhan massal terhadap anggota PKI dan orang-orang yang dicurigai, mencerminkan betapa kekacauan dan ketidakstabilan dapat melahirkan kekerasan yang sama menakutkannya.
Seperti halnya Perang Dunia, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ideologi dan konflik dapat mengakibatkan hilangnya banyak nyawa, dan pentingnya menjaga dialog serta penyelesaian damai agar sejarah kelam tidak terulang. (Martinus Jonathan Nainggolan)
Editor : Meitika Candra Lantiva