RADAR JOGJA - Meningkatkan minat belajar menjadi salah satu alasan penerapan program belajar masyarakat. Selain pembelajaran di lingkungan sekolah, pembelajaran dalam rumah juga menjadi penting untuk dilakukan pada tahun 2000-an.
Aktivitas masyarakat yang padat serta barang elektronik seperti televisi dan telepon genggam menjadi faktor turunnya minat belajar pada waktu itu. Seperti dikatakan Dukuh Nglanggeran Wetan, Kalurahan Nglanggeran, Gunungkidul Agus saat dihubungi Radar Jogja, Jumat (27/9).
Dia berujar, jam belajar masyarakat pernah diterapkan di wilayahnya. Sebab, ketertarikan pelajar akan sinetron-sinetron di televisi membuat waktu belajar bagi anak-anak berkurang.
"Waktu itu program jam belajar masyarakat diinisasi oleh tenaga pengajar SD Negeri Nglanggeran bersama perangkat desa," ujar Agus.
Pemberitahuan jam belajar masyarakat melalui papan yang ditempelkan di Balai Padukuhan. Waktu yang disepakati saat itu sekitar pukul 19.00 sampai 21.00. Dia mengatakan, kisaran waktu itu warga diminta menghentikan aktivitas, tidak bermain telepon genggam atau menonton televisi.
"Orang tua diminta untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya selama dua jam di rumahnya masing-masing," ucapnya.
Program tersebut, kata Agus, diawasi langsung oleh guru, wali murid dan komite sekolah. Bahkan, inspeksi mendadak dari rumah ke rumah dilakukan demi memastikan penerapan jam belajar masyarakat terlaksana.
"Bagi yang kedapatan menonton televisi atau tidak belajar, langsung mendapat teguran," jelasnya.
Menurutnya, jam belajar masyarakat mampu menumbuhkan minat belajar anak-anak sekolah dasar. Namun begitu, penerapan jam belajar masyarakat tidak cukup sampai setahun.
"Efektifnya awal-awal saja, tidak cukup setahun tidak lagi diterapkan, mungkin beberapa rumah masih menerapkan," tuturnya.
Apalagi, waktu pembelajaran di sekolah juga sudah bertambah sehingga di rumah menjadi tempat anak-anak untuk beristrahat dari pembelajaran.
Penerapan jam belajar masyarakat juga sempat dilaksanakan di Kalurahan Bendung, Semin, Gunungkidul. Lurah setempat Didik Rubianto mengatakan, penerapan program itu sejak tahun 2008 silam.
"Bahkan kami memakai toa masjid untuk memberitahu warga bahwa jam belajar masyarakat sudah di mulai," ujar Didik.
Sama dengan tempat lainnya, pada saat jam belajar masyarakat berlangsung, warga tidak diperbolehkan untuk menggunakan barang-barang elektronik yang ada di rumah.
Dia mengakui, program ini sempat efektif pada masanya. Warga setempat tetap konsisten dengan penerapan jam belajar masyarakat demi ilmu pengetahuan anak-anaknya.
"Kami pernah mendapatkan penghargaan mengenai konsistensi penerapan jam belajar masyarakat di tingkat provinsi pada tahun 2014," tandasnya. (ndi/laz)
Editor : Heru Pratomo