RADAR JOGJA - Gerakan jam belajar di tataran masyarakat sebenarnya mendapat respons positif. Kendati begitu, masih ada beberapa yang dinilai perlu ada evaluasi. Terutama berkaitan dengan konsistensi serta intensivitas dari pemberlakuan program tersebut.
Seperti diungkapkan Lukman Hakim, 33, warga Desa Mekarsari, Kecamatan Kutowinangun, Kebumen. Dikatakan, pemberlakuan jam belajar masyarakat perlu menjadi perhatian bersama. Dari sisi pemerintah perlu memastikan program itu dapat terealisasi dengan baik melalui sebuah regulasi. "Harus lebih intensif lagi. Istilahnya bukan cuma aturan, tapi dicek apakah berjalan dengan baik," jelasnya Jumat (27/9).
Selain pemerintah, peran guru dan orang tua juga dianggap penting. Keduanya memiliki tanggung jawab agar program jam belajar dapat berjalan efektif. "Guru sifatnya mengarahkan, orang tua di rumah tugasnya mengawasi. Saling melengkapi begitu," tambah Lukman yang juga guru di SDN Kutowinangun.
Warga lain, Mutia Fajar Tri Wahyuni, 27, mengatakan, pemberlakuan jam belajar sejatinya dapat dirasakan banyak manfaatnya oleh masyarakat. Selain menumbuhkan minat baca, gerakan itu juga menjadi upaya menekan angka kenakalan remaja.
Seperti halnya tawuran maupun aksi kriminal lain. "Lihat berita sekarang mengkhawatirkan. Banyak tawuran, asusila dan segala macam. Salah satu cara mencegah itu lewat jam belajar," ujar mantan siswa MAN 1 Kebumen itu.
Warga Desa Karangsari, Kecamatan Kebumen itu sepakat seluruh sekolah memberlakukan jam belajar. Menurutnya, aparat juga perlu turun tangan mengawal program tersebut.
Dia melihat, ancaman kecanduan game online di kalangan muda juga menjadi tantangan tersendiri dari pemberlakuan jam belajar masyarakat. "Petugas perlu keliling pas jam belajar, apakah masih ada anak yang nongkrong apa tidak. Kalau ditemukan, suruh pulang," ucapnya. (fid/laz)
Editor : Heru Pratomo