RADAR JOGJA - Gaung Program Jam Belajar Masyarakat (JBM) kini perlahan memudar, bahkan hilang. Program itu dulunya sempat diberlakukan di setiap dusun, termasuk Dusun Bendosari di Kalurahan Madurejo, Prambanan, Sleman. Hingga sekarang JBM dengan tanda pengumuman yang disiarkan melalui toa itu masih dilakukan.
Ya, di Dusun Bendosari rutin selepas isya seluruh warga akan mendengar tanda memasuki JBM yang diumumkan melalui toa milik dusun. Diawali dengan suara seperti alat pendeteksi jantung di rumah sakit.
'Perhatian-perhatian waktu sudah menunjukan pukul 19.00, di Padukuhan Kembang sampai pukul 21.00 adalah Jam Belajar Masyarakat, segera matikan televisi dan alat elektronik lainnya, dampingi anak dalam belajar, buatlah suasana yang nyaman untuk belajar, mari kita ikuti program jam belajar masyarakat demi masa depan yang lebih baik'. Begitu suara pengumuman itu yang setiap hari dibunyikan oleh dukuh Bendosari.
Dukuh Bendosari Sujarwoko mengatakan, dusunnya mulai memberlakukan JBM tahun 2013. Beberapa waktu sempat tidak aktif, khususnya pengumuman karena kondisi toa yang sempat rusak. "Ini udah dibeneri, minggu ini kemungkinan akan dihidupkan lagi," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (27/9).
Tujuan dari pemberlakuan JBM untuk menginformasikan kepada masyarakat bahwa pukul 19.00-21.00 adalah waktu belajar anak sekolah. Budaya itu terus dilestarikan agar masyarakat terbiasa dengan pola aturan belajar seperti itu. "Setiap pengumuman dibunyikan, orang tua ngopyak-opyak (menyuruh) anaknya untuk segera belajar," tuturnya.
Selain belajar, pada jam itu juga keluarga diimbau untuk mematikkan tv dan ponsel. Hal itu agar aktivitas lain tidak menganggu belajar anak. "Memang ada yang melakukan ada yang tidak. Itu merupakan dinamika di dusun," bebernya.
Gerakan JBM juga untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat yang mendorong minat belajar anak-anak di luar kegiatan sekolah. Selain itu, JBM juga untuk merekatkan keharmonisan dalam keluarga.
Penyelenggaraan itu sesuai Keputusan Gubernur DIJ Nomor 93 Tahun 1999 tentang Jam Belajar Masyarakat. Masyarakat Bendosari bahkan kebanyakan sudah hafal bunyi pengumuman yang disiarkan melalui toa itu, saking seringnya dibunyikan.
Gaung pengumuman tersebut selain mengingatkan masuk waktu JBM juga sebagai kekhasan saat berada di Dusun Bendosari. Walaupun kini zaman terus berubah, mulai dari belajar melalui buku hingga saat ini digantikan melalui smartphone, Sujarwoko percaya bahwa apa yang ia lakukan menghasilkan manfaat walaupun hanya secuil. (oso/laz)
Editor : Heru Pratomo