RADAR JOGJA - Kartu Telepon Umum (KTU) sempat berjaya pada masanya. Keberadaan kartu ini cukup penting sebagai peranti komunikasi jarak jauh. Di era 1990-an kala itu, arus teknologi belum canggih seperti sekarang.
Pengguna setia KTU, Budi Riyanto, yang juga warga Kelurahan Kebumen, Kecamatan Kebumen mengaku, KTU cukup dekat dengan kalangan masyarakat umum, pegawai kantoran hingga mahasiswa. Masa itu di area Kota Kebumen hanya ada satu telepon umum berbasis kartu. Tepatnya berada di Jalan Pahlawan atau dekat alun-alun.
"Dulu buat teleponan cari kerjaan. Ada keluarga di Jakarta atau Kalimantan, saya tanya barangkali ada lowongan begitu," ungkap pria 52 tahun itu kepada Radar Jogja, Jumat (13/9).
Baca Juga: Revisi UU Imigrasi untuk Penguatan Pengawasan WNA dan Perbaikan Pelayanan Telah Disahkan
Budi masih ingat betul, bagaimana dulu dia harus bersusah payah hanya untuk berkomunikasi dengan sanak saudara. Bahkan lewat KTU ini dia mampu berkomunikasi hingga menjangkau luar pulau. "Kalau ingat kisah dulu itu ya sedih, ya senang. Sangat berkesan intinya," bebernya.
Dia menerangkan, penggunaan telepon umum berbasis kartu jauh lebih modern ketimbang telepon koin. Dari sistem ini dinilai tidak begitu merepotkan karena tidak perlu menukar koin khusus. Hanya saja, jika dikalkulasi harga KTU lebih mahal dari penggunaan koin.
Satu KTU, kata Budi, kala itu dibanderol paling murah Rp 1.500. Sehingga wajar KTU hanya digunakan sebagian orang yang terbilang ekonomi mapan. "Ibarat zaman sekarang, kartu itu pulsa. Tapi dulu memang agak mahal. Saya juga harus nabung dulu buat beli kartu. Belinya di Kantor Pos," ujarnya.
Baca Juga: Dari Lombok Naik Kapal Layar Hendak ke YIA, Dua Bule Australia Berlabuh di Pantai Glagah
Baca Juga: Jelajah Spot Foto Prewedding Hits! Landasan Pacu Depok Jogja Menawarkan Pemandangan Eksotis
Pengguna lain, Murjoko, 46, mengatakan penggunaan KTU jauh lebih praktis. Banyak keunggulan yang didapat dalam penggunaan telepon berbasis kartu. Antara lain sisa saldo atau pulsa akan tertera pada layar telepon.
Sehingga pengguna akan mudah mengukur berapa durasi ketika telepon. "Tidak perlu lagi krincing-krincing di saku celana. Cukup dimasukkan dompet, beres," kata warga Desa Muktisari itu.
Pemakaian KTU ini hampir mirip dengan koin, sama-sama dilihat dari ukuran jarak dan durasi telepon. Ada satu lagi yang menurutnya cukup berkesan, yakni tampilan KTU dibuat menarik.
Seperti halnya prangko atau materai, memiliki desain khusus agar menjadi daya tawar tersendiri. "Kalau misal ada hari besar, biasanya keluar edisi khusus. Itu yang banyak dicari," bebernya.
Editor : Heru Pratomo