RADAR JOGJA - Baru-baru ini tagar Pray for Borobudur ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat. Khususnya mereka yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian Candi Borobudur.
Tagar itu mencuat setelah muncul isu soal rencana pemasangan chattra atau payung di atas stupa induk Candi Borobudur.
Koordinator Daya Desa Borobudur Lukman Fauzi Mudasir mengutarakan, tagar tersebut muncul karena adanya kekhawatiran terhadap nilai sejarah dan keaslian Candi Borobudur.
Baca Juga: Honda Big BOS Sulawesi Journey 2 Hadirkan Kegembiraan Berkendara dan Penjelajahan Menantang
Hal itulah yang memunculkan pergolakan di sejumlah kalangan karena dinilai terburu-buru dalam menyusun kajiannya.
Menurutnya, Candi Borobudur bukan hanya simbol spiritual bagi umat Buddha. Tetapi juga merupakan warisan budaya yang penting bagi seluruh dunia. Karena itu, segala bentuk intervensi terhadap Borobudur harus dilakukan dengan kehati-hatian.
Termasuk melakukan kajian dan penelitian yang mendalam. Serta disesuaikan kaidah sejarah dan arkeologi.
"Saat uji publik beberapa hari lalu dengan perwakilan BRIN, Kemenag, Kemdikbudristek dan lainnya, kami sempat menanyakan urgensi pemasangan chattra. Tapi jawabannya belum kami temukan," ujarnya di Balkondes Borobudur, Selasa sore (10/9).
Baca Juga: Kasus Sodomi di Gunungkidul Terungkap saat Korban Menonton Video Tidak Senonoh
Baca Juga: Meski Diguyur Hujan, Para Penonton Timnas Indonesia Tetap Bertahan di Lapangan Denggung untuk Nobar
Dia menyebut, sebetulnya rencana pemasangan chattra hasil rekonstruksi Theodore van Erp bukan kali pertama terjadi. Sebab rencana itu sudah mengemuka sejak 2018. Namun akhirnya ditolak, terutama kalangan arkeolog karena dinilai bukan merupakan bebatuan asli.
Kemudian rencana itu kembali dilontarkan saat rapat koordinasi antarmenteri pada 2023 lalu di Magelang. Pemerintah pun mendukung adanya pemasangan chattra dan rencananya dijadwalkan pada September ini. Rencana itu praktis menuai pro dan kontra.
"Kenapa kok (pemasangannya) terkesan buru-buru. Itu terlalu dipaksakan. Padahal pemasangan bebatuan candi tidak semudah itu. Perlu adanya kajian yang mendalam," terangnya.
Dia menambahkan, pemasangan chattra dianggap mengandung niat yang baik. Hanya saja belum terintegrasikan seluruhnya. "Niatnya baik. Tapi terkesan buru-buru. Pemerintah harus paham dulu filosofi Candi Borobudur agar kebijakan itu berkesesuaian," tambahnya. (aya/laz)
Editor : Heru Pratomo