Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lebih dari Sekedar Saluran Air, Selokan Mataram Bukti Kecerdikan Sultan Hamengku Buwono IX dalam Melindungi Rakyatnya dari Romusha Jepang

Meitika Candra Lantiva • Selasa, 3 September 2024 | 17:41 WIB
Ilustrasi diorama, romusha membuat selokan mataram pada masa pendudukan Jepang.
Ilustrasi diorama, romusha membuat selokan mataram pada masa pendudukan Jepang.

RADAR JOGJA - Selokan Mataram, yang membentang sepanjang sekitar 30 km dari Kali Progo di barat sampai Kali Opak di timur Yogyakarta, memiliki sejarah yang panjang.

Tidak hanya sekedar saluran irigasi, selokan ini menjadi simbol kebijakan perlindungan kepada masyarakat Yogyakarta dari Sultan Hamengku Buwono IX, terhadap kerja paksa Jepang (Romusha).

Nama aslinya Gunsai Yoshiro, selokan ini menjadi warisan penting yang tidak hanya bermanfaat untuk pertanian, namun juga bagi kehidupan masyarakat.

Sejarah Panjang Pembangunan Selokan Mataram

Sejarah Selokan Mataram dimulai pada tahun 1944, tepat ketika masa penjajahan Jepang di Indonesia.

Saluran yang bernama Gunsai Yoshiro ini bermakna irigasi pertanian, yang bertujuan mengalirkan air untuk mengairi area pertanian yang luas.

Di masa itu Jepang melakukan romusha untuk membangun proyek besar.

Seringkali Jepang melakukan romusha dengan sangat tidak manusiawi.

Tak heran ribuan rakyat dipaksa bekerja dalam proyek besar, dengan upah yang sedikit bahkan tanpa upah, yang membuat kondisi rakyat terlihat memprihatinkan.

Mengetahui ancaman ini, Sri Sultan berupaya untuk melindungi masyarakatnya dari romusha, beliau kemudian mendapatkan cara yaitu melalui pembangunan Selokan Mataram.

Sebuah proyek saluran air yang akan dikelola sendiri oleh Sultan agar lebih memberdayakan bagi masyarakat.

Tujuannya adalah untuk mengairi sawah-sawah di Yogyakarta.

Sultan meyakinkan pihak Jepang bahwa proyek irigasi ini penting untuk meningkatkan pangan daerah, yang nantinya akan mendukung kebutuhan logistik Jepang.

Dengan dalih tersebut, sultan berhasil mencegah ribuan penduduk Yogyakarta untuk dikirim romusha ke luar daerah, dan berhasil memanfaatkan pembangunannya untuk masyarakat sekitar.

Hasilnya, proyek ini dikerjakan bersama-sama oleh penduduk sekitar dengan semangat kebersamaan, dan berhasil menghindari mereka untuk dikirim ke luar daerah yang sulit dan berbahaya.

Tidak hanya behasil menyelamatkan banyak ribuan nyawa, namun juga berhasil memperkuat ketahanan pangan di wilayah Yogyakarta.

Warisan yang terus ada

Selokan mataram, saluran air yang membentang di Yogyakarta. Menghubungkan Jali Progo dengan Kali Opak.
Selokan mataram, saluran air yang membentang di Yogyakarta. Menghubungkan Jali Progo dengan Kali Opak.

Sampai sekarang, Selokan Mataram masih terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain berhasil mengairi area pertanian yang luas sekitar 15.734 hektar, saat ini banyak tempat dan usaha rakyat menyebar di sekitar selokannya.

Sehingga perputaran ekonomi rakyat Yogyakarta pun dapat tumbuh dengan baik

Selain berfungsi bagi pertanian, selokan ini juga menjadi monumen sejarah yang mengingatkan kebijaksanaan serta kepemimpinan Sultan HB IX, yang juga sebagai simbol kebersamaan masyarakat dalam menghadapi masa-masa sulit.

Di balik aliran airnya, tersimpan kisah kebijaksanaan, perjuangan, dan kebersamaan yang akan tetap hidup. (Muhammad Affan Himawan)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Selokan Mataram #saluran irigasi #Yogyakarta #kali progo #simbol #sejarah #kebijaksanaan #perjuangan #Proyek besar #Sultan Hamengku Buwono IX #Gunsai Yoshiro #ROMUSHA #jepang #Kali Opak #kerja paksa #Indonesia #Perputaran Ekonomi