RADAR JOGJA - Plengkung Gading tidak hanya sebagai tempat akses masuk ke wilayah Kraton Jogja.
Plengkung Gading merupakan bangunan ikonik bernilai historis dan filosofis tinggi.
Berada di Jalan Patehan Kidul No 4, Patehan, Kecamatan (Kemantren) Kraton, Kota Jogja, lokasi ini dekat dengan Alun-Alun Selatan Keraton Yogyakarta.
Bangunan tempat ini menjadi ikon penting dalam kota ini.
Tiap harinya jalan di bawah bangunan Pelengkung Gading ini selalu padat kendaraan.
Selain itu, area sekitarnya juga ramai kedatangan pengunjung yang menikmati suasana di plengkung.
Terowongan ini memiliki atap yang bisa dinikmati para pengunjung untuk sekedar bersantai atau berfoto-foto di atas sambil melihat pemandangan jalanan dan Kota Jogja.
Jika ingin melihat pemandangan Kota Jogja, kamu dapat mengakses melalui tangga di sisi utara, tepat bersebelahan dengan terowongannya.
Sebenarnya Kraton Jogja masih memiliki empat plengkung lagi di wilayah kraton, namun plengkung nirbaya atau gading ini memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri.
Di mana di balik keindahan Plengkung Nirbaya ini, tersimpan aturan unik dan filosofis.
Pelengkung Gading ini, menjadi satu-satunya jalan yang tidak boleh dilalui Sultan Hamengku Buwono X yang masih bertahta sebagai Raja Kraton Yogyakarta.
Makna nirbaya adalah tidak ada bahaya yang besar atau mengancam.
Sejak dibangunnya pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I, para sultan yang masih hidup atau bertahta tidak diperbolehkan melewatinya.
Kecuali, bagi sultan yang sudah wafat.
Namun, berbeda aturan bagi masyarakat umum, jika ada warga yang wafat, sangat tidak diperbolehkan untuk melewati Plengkung Nirbaya.
Lalu mereka harus mencari jalan lain untuk melewatinya.
Ada kepercayaan mengapa para sultan yang masih bertahta tidak diperbolehkan melewati Plengkung Nirbaya
Konon ada keyakinan bahwa sultan adalah perwujudan dari kosmos atau "Sangkan Paraning Dumadi".
Yakni, bermakna asal dan tujuan dari segala sesuatu, dengan pandangan itu sultan bisa dianggap sebagai sosok yang mencapai tahap spiritualitas tertinggi.
Sehingga tidak perlu lagi melewati jembatan atau terowongan itu.
Ada keyakinan lain bahwa saat sultan melewati Plengkung Gading maka akan mendapat petaka.
Hal ini terkait mitos bahwa plengkung merupakan gerbang menuju kematian atau bisa disebut akhir dari perjalanan hidup di dunia.
Sehingga, jika sultan melewatinya, dikhawatirkan kematian akan kian mendekat, tentu hal itu sangat ingin dihindari para sultan.
Sebagai simbolis, Plengkung Gading juga adalah penanda batasan antara dunia Kraton yang penuh nilai luhur serta kesakralan dengan kehidupan di luar kraton yang bersifat tidak sakral.
Dalam hal ini dapat dianggap sultan harus menjaga kesucian dari keberadaanya yang berperan sebagai pemimpin spiritual dan politik
Bahkan sampai kini, tradisi di atas masih tetap di yakini dan dihormati oleh masyarakat Yogyakarta.
Tidak ada sultan yang masih hidup atau bertahta melewati Plengkung Gading.
Masyarakat Yogyakarta pun sangat menghormati aturan ini sebagai bagian dari warisan budaya mereka yang kaya akan sarat nilai-nilai luhur nya.
Plengkung Gading dengan segala keunikan dan keistimewaannya, bukan hanya menjadi saksi sejarah panjang Kraton Yogyakarta, namun juga menjadi simbol filosofis yang sampai sekarang terus hidup di tengah masyarakat.
Keberadaanya mengingatkan kita agar menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual, dan menghormati tradisi yang kaya makna.
Di balik lengkungannya yang gagah, ada pesan mendalam yang tersimpan mengenai perjalanan hidup dan spiritualitas yang patut direnungkan bersama. (Muhammad Affan Himawan)
Editor : Meitika Candra Lantiva