Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sejarah yang Sudah Terlupakan, Menengok Kembali Tradisi Gowok, Tradisi yang Pernah Ada di Masyarakat Jawa

Meitika Candra Lantiva • Jumat, 16 Agustus 2024 | 17:24 WIB
Salah Satu tradisi gowok, seorang anak yang memijit wanita muda di Jawa pada era kolonial Belanda.
Salah Satu tradisi gowok, seorang anak yang memijit wanita muda di Jawa pada era kolonial Belanda.

RADAR JOGJA - Sejak zaman dahulu, tentunya masyarakat sudah memahami bahwa Indonesia memiliki keberagaman.

Pemahaman itu dikenal dengan sebutan Bhineka Tunggal Ika, yang artinga, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Sekian banyak keberagaman tersebut, salah satunya tradisi Gowok.

 

Apa itu Tradisi Gowok?

Dilansir dari koropak.co.id ini salah satu tradisi kuno yang kemungkinan sudah punah.

Tradisi ini awalnya diperkenalkan wanita Tiongkok bernama Goo Wok Niang.

Goo Wok Niang datang ke Jawa bersama dengan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1415-an.

Penulis terkenal asal Indonesia yaitu adalah Budi Sarjono dalam novelnya tentang Nyai Gowok, mengatakan bahwa kata Gowok sendiri dipakai untuk mengenang Goo Wok Niang.

Ternyata, dalam waktu yang tak lama, praktik tersebut dikenal masyarakat Jawa dan menjadi tradisi di kemudian harinya.

Ternyata kata "Gowok" ini memang terdapat cerita yang mendukung bahwasanya pemakaian kata tersebut dilakukan oleh masyarakat Jawa yang sulit dalam melafalkan nama-nama orang Tiongkok dengan benar.

Hal itu dipaparkan Muhammad Eris dalam bukunya, "Gowok, Sebuah Tradisi Tabu yang Pernah Ada di Masyarakat Jawa".

Baca Juga: Prediksi Manchester United vs Fulham Liga Inggris Sabtu 17 Agustus Kick Off 02.00, H2H dan Susunan Pemain, Kans Pembuktian Setan Merah


Apa yang terjadi dengan Tradisi Gowok?

Tradisi ini diartikan sebagai pemberian pelatihan kedewasaan kepada seorang laki-laki dewasa yang hendak menikah.

Anak laki-laki tersebut harus nyantrik (latihan) bersama seorang perempuan yang berprofesi sebagai Gowok.

Tujuannya dari tradisi ini adalah untuk mempersiapkan laki-laki dewasa yang hendak menikah agar memiliki kesiapan saat menjalin hubungan rumah tangga.

Untuk menjadi seorang gowok ini, seorang wanita harus memiliki kriteria tertentu.

Seperti, berpengetahuan bagus mengenai kerumah tanggan dan masih banyak lagi, dan pastinya harus sabar dalam mendidik seorang anak remaja.

Apa yang diajarkan oleh Gowok?

Anak laki - laki yang sudah dewasa sebaiknya diajarkan mengenai kehidupan untuk berumah tangga.

Maka seorang gowok harus sabar dan telaten dalam memberikan sebuah ilmunya kepada muridnya.

Pada masa pelatihan, anak laki-laki akan banyak diajarkan mengenai banyak hal kehidupan rumah tangga, seperti keperluan dapur, memperlakuakan seorang istri, bagaimana cara memuaskan lahir batin istri dan masih banyak lagi urusan yang berkaitan dengan rumah tangga.

Seperti halnya yang diceritakan oleh Nyai Lindri, seorang gowok di masa lalu, mengajarkan lelaki dewasa yang dititipkan oleh orang tuanya akan diajari mengenai kehidupan berumah tangga.

Disebutkan oleh Ahmad Tohari yang menyunting buku Banyumas: Wisata dan Budaya karya M.Koderi bahwa seorang gowok akan mendapatkan gaji atau upah dari orang tua yang menitipkan anaknya.

Pada masa pelatihan, seorang gowok harus bisa mengendalikan dirinya agar tidak sampai hamil, bahkan jatuh cinta kepada muridnya.

Gowok dan kelanjutannya

Tradisi gowok memang sudah tidak populer lagi, kalaupun populer tradisi ini pasti sudah ditinggalkan, sebab sudah tidak sesuai dengan norma, bahkan bisa dianggap perbuatan yang menyimpang.

Padahal, pada masa lampau pekerjaan ini diberi sebuah upah sekaligus menjadi tradisi untuk menciptakan rumah tangga yang ideal pada masyarakat Jawa Kuno.

Meskipun dulu gowok menjadi sebuah pekerjaan, kini tradisi ini mulai hilang karena dianggap bertentangan dengan norma masyrakat.

Bagaimana menurutmu sobb? (Bayu Prambudi Susilo)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#kedewasaan #tradisi gowok #sejarah #masyarakat jawa