Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menelusuri Makna Sumbu Filosofis Tata Ruang Jogja: Penciptaan Poros Imajiner Sri Sultan Hamengku Buwono I, Lambangkan Perjalanan Siklus Hidup Manusia

Winda Atika Ira Puspita • Sabtu, 13 Juli 2024 | 14:24 WIB

Ilustrasi Garis Imajiner Yogyakarta.
Ilustrasi Garis Imajiner Yogyakarta.


RADAR JOGJA - Yogyakarta, dengan segala pesonanya, bukan hanya dikenal sebagai kota pelajar dan pusat kebudayaan Jawa, tetapi juga menyimpan jejak-jejak sejarah yang memancarkan nilai filosofis tinggi.

Salah satu warisan budaya yang kaya makna adalah Sumbu Filosofis Yogyakarta.

Terbentang dari Laut Selatan hingga Gunung Merapi, sumbu ini bukan sekadar poros jalan, melainkan sebuah jalur yang merefleksikan perjalanan spiritual dan simbolis masyarakat Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta dibangun berdasarkan konsep Jawa yang mengacu pada bentang alam seperti gunung, laut, sungai, dan daratan.

Dilansir dari laman kratonjogja.id, konsep garis imajiner dalam tata ruang Kota Yogyakarta sudah diterapkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang juga dikenal sebagai Pangeran Mangkubumi, saat membangun Kota Yogyakarta.

Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I mulai membangun Keraton Yogyakarta pada tanggal 9 Oktober 1755 dan mulai digunakan pada 7 Oktober 1756.

Prinsip utama yang dijadikan dasar pembangunan keraton oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah konsepsi Hamemayu Hayuning Bawono dan Manunggaling Kawula lan Gusti.

Hamemayu Hayuning Bawono artinya membuat bawono (alam) menjadi hayu (indah) dan rahayu (selamat dan lestari).

Konsep tersebut kemudian diterapkan ketika membangun tata letak Kota Yogyakarta dan Keraton Yogyakarta.

Dilansir dari laman tataruang.jogjakota.go.id, penciptaan poros imajiner ini melambangkan keseimbangan hubungan manusia dan alam dengan kelima unsurnya: api (dahana-Gunung Merapi), tanah (bantala-bumi Ngayogyakarta), air (tirta-Laut Selatan), angin (maruta), dan akasa (ether).

Kesemua unsur ini disimbolkan dari Panggung Krapyak hingga Keraton dengan vegetasi yang ada di area tersebut.

Selain garis imajiner, Sumbu Filosofis Yogyakarta juga menjadi pengejawantahan perjalanan siklus hidup manusia berdasarkan konsepsi Sangkan Paraning Dumadi.

Letak Tugu Golong-Gilig, Keraton, dan Panggung Krapyak yang berada dalam satu garis lurus adalah bagian inti dari Sumbu Filosofi Keraton Yogyakarta.

Tugu Golong-Gilig atau Tugu Pal Putih dan Panggung Krapyak melambangkan simbol kesuburan dengan representasi Lingga dan Yoni.

Tugu Golong-Gilig memiliki bentuk bulatan di bagian atasnya (golong) dan silindris di bagian bawahnya (gilig), serta dicat dengan warna putih yang memberikan nama Pal Putih.

Tugu Golong-Gilig melambangkan kehadiran seorang sultan dalam menjalani kehidupannya.

Ini tercermin dalam pengabdian yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Esa, diikuti dengan tekad untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat (golong-gilig), semuanya disertai dengan kesucian hati yang diwakili oleh warna putih.

Tugu Golong-Gilig juga dianggap sebagai titik fokus utama bagi sultan saat melakukan meditasi di Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil Utara.

Perjalanan dari arah selatan yang dimulai dari Panggung Krapyak menuju Keraton menggambarkan perjalanan manusia sejak dilahirkan dari rahim ibu, beranjak dewasa, menikah sampai melahirkan anak.

Alun-alun selatan menggambarkan manusia yang telah dewasa dan wani (berani) menikahi gadis karena sudah akil baligh.

Sebaliknya, perjalanan dari Tugu Golong-Gilig atau Tugu Pal Putih ke arah selatan melambangkan perjalanan manusia menghadap Sang Pencipta (paraning dumadi).

Golong gilig melambangkan bersatunya cipta, rasa, dan karsa yang dilandasi kesucian hati (warna putih).

Perjalanan ini dimulai dari Margatama (jalan menuju keutamaan), terus ke selatan melalui Malioboro (memakai obor/pedoman ilmu yang diajarkan para wali), kemudian melalui Margamulya, dan akhirnya melalui Pangurakan (mengusir nafsu yang negatif).

Kompleks Kepatihan dan Pasar Beringharjo simbolisasi godaan duniawi dan nafsu manusia yang harus dijauhi.

Di sepanjang jalan Margatama, Malioboro, dan Margamulya, ditanam pohon asam-asem (Tamarindus indica) yang melambangkan daya tarik, serta pohon gayam (Inocarpus edulis) yang melambangkan kedamaian dan perlindungan.

Dengan segala kaya makna dan filosofi yang terwujud dalam Sumbu Filosofis Yogyakarta, kota ini tidak hanya menjadi simbol kebudayaan dan sejarah Jawa, tetapi juga sebuah tempat yang memancarkan harmoni antara manusia dan alam serta spiritualitas yang mendalam.

Dari Keraton hingga Tugu Golong-Gilig, setiap elemen dalam kota ini mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang dalam dan mengingatkan akan pentingnya menjaga keseimbangan dalam hidup.

Yogyakarta bukan hanya sebuah kota, tetapi juga sebuah refleksi yang mengajarkan tentang kebijaksanaan dan keharmonisan yang abadi. (Izzatul Akmal Fikri)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Tata Ruang Yogyakarta #Jejak Sejarah #Yogyakarta #sultan #perjalanan #siklus hidup manusia #kebudayaan jawa #jejak spiritual #Menelusuri #sejarah #Warisan Budaya #Sri Sultan Hamengku Buwono I #Jogja #Sumbu Filosofis