Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Tokoh Sronto di Serial Televisi Mbangun Desa Adalah Representasi dari Kehidupan Masyarakat

Gunawan RaJa • Minggu, 7 Juli 2024 | 12:50 WIB
Koes Yuliadi, Pengelola Program Studi Tata Kelola Seni Program Magister ISI Jogjakarta
Koes Yuliadi, Pengelola Program Studi Tata Kelola Seni Program Magister ISI Jogjakarta

RADAR JOGJA - Bagi masyarakat generasi 1980-an dan 1990-an di Jogjakarta dan Jawa Tengah tentu masih ingat dengan acara televisi Mbangun Desa. Serial komedi dengan setting tempat suasana perdesaan ini disiarkan TVRI pada awal medio 1990-an hingga 2008. Ditambah lagi, karakter tokoh-tokohnya sangat kuat, seperti Den Baguse Ngarsa, Sranta, Yu Sranta, Kuriman, dan Pak Bina semakin menambah kekhasan acara ini.

Para tokoh utama lima sekawan dan tokoh-tokoh pembantu memiliki interest pada persoalan sosial. Dilihat dari disiplin ilmu seni pertunjukkan, karakter para tokoh ini muncul dari penggabungan referensi antara khazanah wayang dan ilmu teater barat. Hal tersebut diungkapkan oleh Pengelola Program Studi Tata Kelola Seni Program Magister Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Koes Yuliadi. Menurutnya, salah satu referensi serial Mbangun Desa berasal dari punakawan dalam gara-gara pewayangan.

Para pemeran tokoh Mbangun Desa kebanyakan berlatarbelakang dari anggota Teater Gandrik. Penulis skenarionya adalah mendiang Heru Kesawa Murti. Dia merupakan salah satu pendiri teater kawakan asal Kota Gudeg itu. Selain sebagai penulis skenario, Heru juga turut memerankan salah satu tokoh utama. Namanya Pak Bina. Digambarkan memiliki watak sebagai pamong, penengah apabila terjadi masalah, juga kepanjangan tangan dari pemerintah dalam hal sosialisasi program untuk masyarakat.

Tokoh lain yang menjadi ikon acara ini adalah Den Baguse Ngarsa. Karakter ini digambarkan sebagai tokoh antagonis, kaya raya, suka bikin ontran-ontran dan mengintimidasi tokoh lain. Diperankan oleh Susilo Nugroho seorang komedian yang masih eksis hingga sekarang yang juga pensiunan PNS guru SMKI Jogjakarta. Den Baguse Ngarsa diceritakan memliki dua rewang atau pembantu rumah tangga. Yaitu pasangan suami istri bernama Sranta dan Yu Sranta. Ada juga tokoh Kuriman yang memiliki tabiat grusa-grusu, gampang menyimpulkan suatu perkara, dan biasanya digambarkan menjadi lawan dari Den Baguse Ngarsa.

"Secara naratif, tontonan serial ini mengedepankan penokohan dan alur. Membawa pesan sosial secara dramatik dibalut unsur komedi," ungkap alumni S-2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM 2002 itu.

Karakter Sranta diperankan oleh Sudiharjo. Sang seniman teater yang telah berpulang pada 2016 lalu ini dapat membawakan watak apik yang merupakan representasi dari masyarakat pada umumnya. Lugu, kalem, manutan, pemalu, sabar, terkesan sedikit bodoh, dan berekonomi rendah, namun berkepribadian baik.

Kondisi Sranta yang digambarkan sarwa susah kerap dimanfaatkan oleh tokoh lain. Den Baguse Ngarsa sebagai junjunganya diceritakan sering mengintimidasi Sranta sebagai batur-nya. Dengan plin-plan, Sranta berusaha mencari solusi permasalahan dengan caranya sendiri. Di sinilah letak seninya, terjadi ‘ping-pong’ adu peran antara Den Baguse Ngarsa yang di-counter Kuriman yang ditampilkan memiliki idealis yang kuat namun cenderung gegabah dan tidak tepat. Sehingga terjadi sitkom yang semrawut. Hingga pada akhirnya ditengahi oleh Pak Bina sebagai pini sepuh yang memberikan solusi sekaligus penerangan.

"Itu kekuatan luar biasa. Secara teknis mereka sangat rileks dan menjiwai tokoh yang mereka mainkan," beber Koes yang telah merampungkan study S-3 Penciptaan Videografi ISI Jogjakarta pada 2013 silam. Tokoh Sranta tidak hanya sekadar melemparkan umpan, tapi juga mampu menawarkan situasi berupa persoalan yang betul-betul ada di dinamika kehidupan masyarakat. Sehingga para pemirsa seolah-olah bisa bercermin dan merasakan betul problematika tokoh itu. (gun/hep)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#serial televisi #Sronto #MBANGUN DESA