Seperti contoh adanya konsep sumbu filosofi yang saat ini sudah diakui UNESCO sebagai warisan dunia.
Selain itu, terdapat konsep lainnya yaitu adanya Masjid Pathok Negoro. Keberadaan masjid merupakan pilar berdirinya Kasultanan Yogyakarta.
Selain Masjid Gede, Kasultanan Yogyakarta juga membangun empat masjid di penjuru mata angin.
Beberapa masjid yaitu Masjid Mlangi di sisi barat Karton, Masjid Plosokuning di sisi utara, Masjid Babadan di sisi timur, Masjid Dongkelan di sisi selatan, serta Masjid di Wonokromo.
Masjid-masjid tersebut disebut sebagai masjid Pathok Negoro.
Angka 5 sering dikaitkan dengan rukun islam dan sedulur papat limo pancer.
Empat masjid Pathok Negoro dibangun pada periode 1723 hingga 1819.
Sedangkan Masjid Wonokromo dibangun pada periode 1814 hingga 1823.
Pathok Negoro memiliki arti batas negara. Artinya masjid masjid tersebut batas ibukota negara.
Tetapi selain itu, masjid ini menjadi simbol kekuasaan raja yang tidak dapat diubah atau diganti.
Masjid Pathok Negoro ini pada awal pendiriannya memiliki satu tokoh yang diberi mandat oleh Kasultanan Ngayogyakarta.
Masjid di Mlangi memiliki tokoh yaitu Kyai Nur Iman, Masjid di Plosokuning memiliki tokoh yaitu Kyai Mursodo, Masjid di Dongkelan memiliki tokoh yaitu Kyai Syihabuddin, Masjid Babadan memiliki tokoh yaitu Kyai Ageng Karang Besari, Masjid Wonokromo memiliki tokoh yaitu Kyai Muhammad Faqih.
Masing-masing masjid tersebut memiliki keunikan tersendiri.
Editor : Bahana.