RADAR JOGJA - Membagikan hasil bumi di gunungan, bukan dengan dirayah, merupakan tradisi lama. Di antaranya gunungan yang dibawa ke Kadipaten Pakualaman.
Wawancara Radar Jogja pada 13 Desember 2016 saat pelaksanaan Garebeg Maulud, Prosesi ritual berebut isi gunungan ini ternyata bukanlah adat yang sejatinya diajarkan oleh pewaris tradisi.
Hal itu disampaikan Penghageng Kawedanan Budaya lan Pariwisata Kadipaten Pakualaman Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Indrokusumo.
Dulu, kata Indrokusumo, isi gunungan dicacah dan dibagikan secara tertib kepada warga. Bukan diperebutkan secara semerawut. Itulah sejarah awal kirab gunungan Maulud Nabi.
"Jadi gunungan itu diantarkan ke Pakualaman untuk diterima terlebih dahulu. Selanjutnya dicacah dan dibagi sama rata oleh lurah setempat. Cacahan ililah yang kemudian disebar ke kebun pekarangan dan sawah agar hasil bumi melimpah," jelas pria yang akrab disapa Kanjeng Indro.
Dia menyayangkan aksi berebut gunungan. Terlebih untuk mendapatkan isinya warga harus berjibaku dengan memanjat gunungan. Akibatnya, tak semua warga yang datang ke Pakualaman kebagian hasil bumi. Meskipun hanya secuil.
Kanjeng Indro sudah mencoba untuk mengenalkan sejarah asli prosesi gunungan kepada masyarakat. Terutama di kalangan lurah yang belum tentu mengenal sejarah gunungan garebeg.
"Banyak yang tak paham sejarah itu. Cacah hasil bumi itu sebagai harapan agar hasil panen melimpah. Apalagi lahan pertanian di perkotaan saat ini tidak seluas dulu," paparnya.
Kembali ke sejarah gunungan, Kanjeng Indro menuturkan, ada tujuh buah yang merupakan pemberian Raja Keraton Jogjakarta. Dulunya, jumlah gunungan lebih banyak. "Bisa mencapai 18 gunungan garebeg," ucapnya.
Belasan gunungan garebeg dibagikan ke semua ndalem kepangeranan.
Seiring berjalannya waktu, jumlah gunungan menyusut. Nah, agar pembagiannya merata untuk semua warga, isi gunungan dicacah. Para lurah ditunjuk sebagai perwakilan warga. Merekalah yang akan menerima pembagian isi gunungan untuk disebarkan ke sawah-sawah warga.
Kanjeng Indro mengisahkan, di era Sri Sultan Hamengku Buwono IX jumlah gunungan sempat berkurang drastis. Kala itu hanya satu gunungan yang diantar ke Masjid Kauman. Ini terjadi karena ada peperangan dengan penjajah Jepang.
Keraton kembali mengantar gunungan ke Pura Pakualaman pada 1984. Pada 2012 keraton juga memberikan gunungan ke Kepatihan, kantor pusat Pemprov DIJ.
"Gunungan garebeg juga merupakan wujud pelestarian kekerabatan antara Keraton dan Pakualaman. Suatu ikatan kebersamanaan sebagai lembaga pelestari adat dan budaya di Jogjakarta. Tradisi ini tetap kami jaga dengan mempertahankan nilai dan filosofinya," paparnya.
Editor : Heru Pratomo