Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ratusan Tahun Berdiri Kokoh! Pasar Ini Bukti Langka Sejarah Kota Jogja yang Mesti Kamu Tahu!

Cici Jusnia • Selasa, 19 Maret 2024 | 22:45 WIB
Ratusan Tahun Berdiri Kokoh! Pasar Ini Bukti Langka Sejarah Kota Jogja yang Mesti Kamu Tahu! (Foto: Indonesia.go.id)
Ratusan Tahun Berdiri Kokoh! Pasar Ini Bukti Langka Sejarah Kota Jogja yang Mesti Kamu Tahu! (Foto: Indonesia.go.id)

RADAR JOGJA - Banyak sekali bangunan peninggalan masa lampau yang tersebar di berbagai sudut Yogyakarta, seolah menghadirkan sebuah lorong waktu yang memikat.

Tak terkikis oleh masa, bangunan-bangunan berusia ratusan tahun menjadi saksi bisu perkembangan kota yang sarat makna dan filosofi.

Salah satu contoh nyata dari keindahan sejarah ini adalah keberadaan Pasar Legi Kotagede, sebuah pasar yang telah melanglang buana sejak abad ke-16.

Dilansir dari website resmi indonesia.go.id, Pasar Legi Kotagede tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga menjadi pasar tertua di Kota Gudeg.

Diceritakan dalam Babad Tanah Jawi, pasar ini memiliki awal yang unik. Sultan Hadiwijaya, pemimpin Kesultanan Pajang pada masa itu, memberikan hadiah berupa tanah kepada Ki Ageng Pamanahan setelah berhasil menyingkirkan Arya Penangsang pada tahun 1549 silam. Tanah tersebut terletak di Mentaok, antara Mataram dan Pati.

Ki Ageng Pamanahan bersama adik angkatnya, Ki Penjawi, yang turut serta dalam mengalahkan Arya Penangsang, merencanakan pemanfaatan hadiah tersebut.

Mereka membersihkan hutan yang ada di tanah tersebut dan membangun sebuah pasar yang dinamakan Sargedhe atau Pasar Gede.

Pendirian pasar ini diutamakan oleh Ki Ageng Pamanahan sebagai pusat ekonomi dan interaksi masyarakat, melebihi pentingnya mendirikan keraton sebagai pusat pemerintahan.

Konsep pasar ini mencakup empat elemen utama: keraton sebagai pusat pemerintahan, alun-alun untuk tempat berkumpul, masjid sebagai tempat ibadah, dan pasar sebagai pusat ekonomi dan interaksi sosial masyarakat.

Ketika pertama kali didirikan, pasar ini berada di tengah-tengah pohon-pohon besar, di mana pembeli mendatangi lapak para penjual yang duduk beralaskan tanah.

Barang-barang yang diperdagangkan meliputi hasil bumi, kain batik, kerajinan gerabah, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Perkembangan pasar ini tak lekang oleh waktu. Pada masa kolonial Hindia Belanda, Pasar Legi Kotagede mulai ramai didatangi oleh pedagang dari luar Yogyakarta yang ikut menetap dan mengembangkan perdagangan baru seperti kerajinan perak, kedai makanan dan minuman, serta penjualan kayu bakar.

Pasar ini mengalami renovasi menyeluruh pada tahun 1986 dan diresmikan kembali oleh Soegiarto pada 22 Februari 1986, yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Yogyakarta.

Hingga kini, Pasar Legi Kotagede tetap menjadi pusat ekonomi yang kokoh, menyediakan beragam kebutuhan masyarakat.

Lokasinya yang strategis, di antara Jalan Mentaok Raya dan Jalan Mondorakan, Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede, membuat pasar ini mudah diakses oleh masyarakat.

Dengan bangunan tempo dulu yang masih dipertahankan, pasar ini tetap menjaga keaslian sejarahnya.

Pembeli dapat menikmati beragam jajanan tradisional yang mulai langka, seperti kue kipo, kembang waru, jenang sumsum, grontol, geplak, pukis, dan pentol, yang sering kali dijumpai di sini.

Dengan segala kekayaan sejarah dan budaya yang tersimpan di dalamnya, Pasar Legi Kotagede terus mengukir cerita panjangnya, menjadi warisan berharga bagi Yogyakarta, dan menghidupkan kembali nostalgia akan masa lampau yang indah.

Editor : Bahana.
#pasar legi #Pasar Legi Kotagede