Gaya Belajar Unik di SMK Syubbanul Wathon Secang, Setengah Hari Akademik dan Pembinaan Pesantren

Naila Nihayah • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:45 WIB
Para siswa SMK Syubbanul Wathon Secang tidak hanya belajar pendidikan vokasi, tapi juga mendapat pembinaan pesantren.
Para siswa SMK Syubbanul Wathon Secang tidak hanya belajar pendidikan vokasi, tapi juga mendapat pembinaan pesantren.

 

 

 

MUNGKID - SMK Syubbanul Wathon Secang, Kabupaten Magelang menjadi satu sekolah yang menggabungkan sistem pendidikan vokasi dengan pembinaan pesantren dalam satu ekosistem terpadu. Hal inilah yang membuat sekolah terus berupaya mencetak lulusan kompetitif berbasis akhlak.

Kepala sekolah SMK Syubbanul Wathon Secang, Agung Dwi Wijanarko menjelaskan, sekolah yang dipimpinnya ini berada di bawah naungan yayasan berbasis pesantren.

 Karena itu, orientasi pendidikan tidak hanya berfokus pada kompetensi kejuruan, tetapi juga pembentukan akhlak. Dia mengatakan, sekolah ingin menunjukkan bahwa santri tetap bisa menjadi lulusan yang kreatif, inovatif, dan kompetitif tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.

Baca Juga: Syafiq Raif Muzaffar, Siswa Kelas VIII SLB Islam Qothrunnada, Bantul; Keterbatasan Tak Memutuskan Semangat Berkarya di Bidang Luki

"Meskipun dengan keterbatasan fasilitas seperti penggunaan ponsel," paparnya saat dihubungi, Jumat (24/7).

Konsep tersebut, kata Agung, diterjemahkan dalam visi sekolah, yakni mencetak lulusan yang mampu bersaing secara global, namun tetap berlandaskan nilai religius. Dalam praktiknya, pendekatan pendidikan di sekolah ini memadukan kurikulum nasional dengan pesantren yang berjalan beriringan.

Agung menjelaskan, sistem pembelajaran diatur dengan pola bergantian antara kegiatan sekolah dan pesantren. Siswa menjalani kegiatan akademik setengah hari, sementara setengah hari lainnya diisi dengan aktivitas kepesantrenan, seperti mengaji dan pembinaan karakter.

Baca Juga: Berikut Daftar Lengkap Skuad Final Timnas Indonesia untuk ASEAN Championship 2026, Ada Kiper PSIM Cahya Supriadi

Konsep itu diterapkan secara bergantian, antara siswa perempuan dengan laki-laki. "Anak-anak memang full kegiatan dari pagi sampai malam. Tantangan terbesar kami adalah manajemen waktu," ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah menerapkan strategi block schedule. Dalam sistem ini, pembelajaran dibagi dalam dua fase. Satu minggu fokus pada mata pelajaran umum (normatif-adaptif) dan minggu berikutnya difokuskan pada praktik kejuruan secara intensif di laboratorium.

 "Saat praktik, siswa bisa benar-benar fokus tanpa terpotong mata pelajaran lain," sebutnya.

Baca Juga: Urban Legend Tak Pernah Mati, Cerita Mistis Selalu Hidup Lewat Media Sosial

SMK Syubbanul Wathon Secang saat ini memiliki tiga program keahlian, yakni Agroteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP), Animasi, serta Perbankan Syariah dengan konsentrasi Akuntansi Keuangan Lembaga. Ketiganya dirancang untuk menjawab kebutuhan dunia industri sekaligus peluang kewirausahaan.

Agung mengatakan, para siswa kelas 11 dan 12 sudah bisa menghasilkan karya yang dibayar langsung oleh industri. "Jadi, mereka belajar sekaligus mendapatkan pengalaman kerja," bebernya.

Meski demikian, kata Agung, tantangan belum sepenuhnya teratasi. Satu persoalan yang masih dihadapi adalah tingkat serapan lulusan di dunia kerja yang belum sepenuhnya linier dengan bidang keahlian.

Baca Juga: Saingi Parangtritis, Melihat Perbukitan Menoreh dengan Paralayang Giri Sembung Kulon Progo, Harga Tiket Mulai Rp 450 Ribu

 Untuk menjawab tantangan tersebut, sekolah terus memperkuat kemitraan dengan dunia usaha dan industri (DUDI). Sinkronisasi kurikulum dengan kebutuhan industri menjadi fokus utama, termasuk peningkatan kompetensi guru melalui program upskilling dan magang industri.

Ke depan, pengembangan sekolah diarahkan pada peningkatan kualitas lulusan dan diversifikasi program. "Kami ingin melahirkan animator muslim yang bisa berdakwah melalui animasi," tegasnya. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
SMK Syubbanul Wathon pesantren Magelang animator Secang