KEBUMEN - Kepedulian terhadap nasib para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) ditunjukkan Tri Retno Setyoningrum, pelajar kelas XI SMAN Buluspesantren.
Ia memberikan rekomendasi kepada pemangku kebijakan melalui sebuah artikel terkait pemberdayaan UMKM.
Dalam tulisannya, siswa 16 tahun itu menyoroti besarnya potensi emping melinjo yang diproduksi para perajin di Kecamatan Ambal. Menurutnya, produk unggulan bernilai ekonomi bagi warga di wilayah tersebut sejauh ini belum tergarap optimal.
Baca Juga: Sampaikan Duplik, Kejari Sleman Tegaskan Penetapan Tersangka dan Penahanan Raudi Akmal Sah
Ia melihat potensi emping melinjo belum didukung dari sisi aspek tata niaga dan pemasaran.
"Saya sifatnya memberikan masukan, tinggal bagaimana menyikapi. Tinggal susun program buat mereka," jelasnya kepada Radar Jogja, Rabu (22/7).
Retno menyebut, sentra produksi emping di Kecamatan Ambal yang cukup populer berasal dari Desa Ambalkliwonan. Emping dari desa tersebut dikenal dengan cita rasa otentik.
Baca Juga: Apel P4GN, Bupati Gunungkidul Ajak Siswa Jauhi Narkoba, Judol, hingga Kejahatan Jalanan
Sebabnya karena dihasilkan dari bahan melinjo pilihan dan masih diproduksi dengan cara tradisional. Namun, kembali lagi potensi besar ini belum menjadi ladang keuntungan bagi perajin. Mereka kerap menghadapi tantangan untuk memperluas pasar, baik dalam daerah maupun luar daerah.
Ia mencermati, faktor produksi emping melinjo belum berpihak kepada perajin antara lain karena belum terbentuk satu wadah untuk menjangkau pasar lebih luas. Rantai pemasaran yang telalu panjang yang dihadapi perajin selama ini berdampak pada stabilitas harga dan kualitas produk.
"Kondisi ini terlihat sangat nyata di lapangan. Padahal di luar sana emping Kebumen terkenal," ucapnya.
Baca Juga: Taklukkan Bali United di Ajang Uji Coba, John Herdman Puas Puji Perkembangan Timnas Indonesia
Menurutnya, perajin emping tak kuasa membanderol harga akibat rantai distribusi terlalu panjang serta kendali sepihak oleh pengepul atau perantara. Hal ini yang kemudian menciptakan monopoli harga karena perajin tidak memiliki posisi tawar.
Ujungnya harga emping khas Kebumen menjadi tak stabil dan sulit bersaing dengan produk daerah lain. Jika hal ini terus dibiarkan para perajin emping di Kebumen akan sulit berkembang. "Tantangan bukan soal rasa, tapi tata kelola yang masih berjalan sendiri-sendiri," ujarnya.
Menyikapi hal itu Retno berpendapat segera dilakukan perbaikan sistem. Caranya dengan membentuk koperasi khusus bagi perajin emping sebagai tempat untuk menampung produk sekaligus pengendali harga.
Baca Juga: Rencana Penerapan Pedestrian di Malioboro, Pedagang Kaos Was-was Merugi
Keberadaan koperasi juga penting untuk membangun kerjasama dengan berbagai pihak. Dengan begitu, rantai distribusi dan stabilitas harga perlahan akan terjaga. "Setelah sistem ditata, beranjak ke pengemasan dan kualitas produk," katanya.
Sementara itu, Waka Kesiswaan SMAN 1 Buluspesantren Ambar Retno mengapresiasi siswanya yang telah berpikir kritis untuk kemajuan UMKM. Tulisan berisi masukan yang dikirim siswanya itu kini masuk dalam program gerakan penerbitan seribu atikel yang dicanangkan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kebumen
. "Senang dan bangga. Siswa kami mampu berkaya lewat tulisan untuk kepentingan publik," ungkapnya. (fid)
Editor : Heru Pratomo