MAGELANG - SMK Yudya Karya Magelang memastikan kegiatan pembelajaran tetap berlangsung normal, meski sekolah tidak lagi menerima peserta didik baru mulai tahun ajaran 2026/2027.
Saat ini, sekolah tersebut memang tengah memasuki fase penghentian operasional secara bertahap hingga 2028, seiring menurunnya jumlah siswa dan rencana alih pengelolaan oleh yayasan baru.
Kepala sekolah SMK Yudya Karya Magelang Hardiyanto menegaskan, informasi ihwal penutupan sekolah tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. "Tidak benar kalau disebut sudah ditutup sekarang. Proses pembelajaran masih berjalan seperti biasa," ujar dia di kantornya, Selasa (7/6).
Baca Juga: Viral ! Terancam Gagal Panen, Sebanyak 600 Pohon Pisang Diduga Disuntik Racun Oknum Iri Dengki, Perempuan Curhat di Medsos
Saat ini, lanjut dia, siswa kelas XII tengah mengikuti Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ). Sementara kelas X dan XI tetap menjalani kegiatan belajar mengajar reguler.
Meski masih beroperasi, sekolah memang tidak lagi membuka penerimaan siswa baru mulai tahun ajaran mendatang. Kebijakan ini menjadi bagian dari skenario penghentian operasional secara bertahap.
Dengan demikian, siswa yang saat ini masih duduk di kelas X dan XI akan tetap menyelesaikan pendidikan hingga lulus, sementara tidak ada lagi regenerasi peserta didik. "Jadi nanti hanya tinggal dua tingkat, kelas X naik ke XI dan XI ke XII, sampai akhirnya selesai di 2028," jelasnya.
Baca Juga: Spot Foto Terbaik di Pantai Parangtritis Yogyakarta: dari Bukit Paralayang hingga Gumuk Pasir yang Instagramable!
Saat ini, jumlah siswa tersisa relatif sedikit. Kelas X tercatat hanya berisi 23 siswa, kelas XI sebanyak 42 siswa, dan kelas XII yang akan segera lulus berjumlah 44 siswa. Sehingga total keseluruhan ada 109 siswa.
Hardiyanto menyebut, penurunan jumlah siswa di SMK Yudya Karya bukan terjadi secara tiba-tiba. Sekolah yang berdiri sejak 1970 di bawah Yayasan Yudya Dharma ini sebelumnya pernah mencapai masa kejayaan dengan jumlah siswa hingga lebih dari 1.000 orang.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, jumlah tersebut terus menurun, bahkan sempat berada di kisaran 500 siswa saat masa pandemi. Hardiyanto menilai, ada sejumlah faktor yang memengaruhi penurunan tersebut.
Baca Juga: Gandeng Lintas Pihak, Pemprov Jateng Siapkan Solusi Permanen Banjir Demak
Pertama, semakin banyaknya sekolah baru di wilayah sekitar yang memecah basis calon siswa. "Dulu wilayah sini menjadi kantong siswa dari berbagai daerah seperti Temanggung, Ambarawa, hingga Parakan. Sekarang sekolah sudah banyak tersebar," paparnya.
Faktor lain yang cukup signifikan adalah kebijakan zonasi serta meningkatnya daya tarik sekolah negeri yang tidak memungut biaya. "Orang tua pasti memilih sekolah negeri terlebih dahulu karena gratis. Itu sangat berpengaruh pada sekolah swasta," imbuhnya.
Selain itu, lanjut Hardiyanto, stigma negatif seperti kasus perkelahian antar pelajar yang sempat melekat juga turut memengaruhi persepsi masyarakat. Meski menurut pihak sekolah hal tersebut bukan faktor utama.
Baca Juga: WFH Jumat Tidak Berlaku Bagi Pekerja maupun Buruh di Gunungkidul, Begini Penjelasan Disdagker
Dengan jumlah siswa yang terus menurun, beban operasional sekolah menjadi semakin berat. Saat ini, SMK Yudya Karya memiliki total 39 tenaga pendidik dan kependidikan, dengan komposisi guru tetap yayasan, guru tidak tetap, serta pegawai administrasi.
Dari jumlah tersebut, 12 guru telah memiliki sertifikasi. Namun, berkurangnya jumlah siswa berdampak pada berkurangnya jam mengajar, yang berimplikasi pada pemenuhan syarat sertifikasi.
Pihak sekolah pun telah berkoordinasi dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) agar guru-guru yang kekurangan jam mengajar dapat dialihkan ke sekolah lain. "Kami sudah komunikasikan, jika ada sekolah yang membutuhkan, guru kami bisa mengajar di sana," terangnya.
Baca Juga: Pedagang Kecil di Kulon Progo Keluhkan Harga Plastik Meroket, Operasional Membengkak
Seiring dengan penghentian operasional SMK, kata Hardiyanto, yayasan berencana mengembangkan lembaga pendidikan baru di lokasi yang sama. Sekolah tersebut akan berada di bawah pengelolaan yayasan lain yang berafiliasi dengan Al Azhar Jogja.
Rencana pengembangan meliputi pendirian taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) dengan konsep berstandar internasional. Saat ini, proses pengembangan masih dalam tahap awal, termasuk rencana pembelian atau pemanfaatan lahan tambahan di sekitar sekolah.
Namun, terkait status aset dan skema pengelolaan ke depan, dia mengaku, masih menunggu keputusan resmi dari yayasan. Perubahan jenjang pendidikan dari SMK ke TK dan SD juga berdampak pada tenaga pendidik yang ada saat ini.
Sebab tidak semua guru dapat langsung beralih, mengingat perbedaan kualifikasi dan kebutuhan kompetensi.
Guru yang ingin bergabung di lembaga baru harus memenuhi persyaratan tambahan, termasuk kemampuan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Arab. "Guru kami dipersilakan melamar, tetapi tetap harus melalui seleksi sesuai standar yayasan baru," jelas Hardiyanto.
Selama lebih dari lima dekade berdiri, SMK Yudya Karya telah meluluskan sekitar 13.489 siswa hingga tahun ajaran 2024/2025. Meski akan berakhir pada 2028, proses penutupan dilakukan secara bertahap dengan tetap menjaga hak siswa untuk menyelesaikan pendidikan. (aya)