JOGJA - Di tengah arus globalisasi yang kian deras, SMP Labschool UNY memilih menanamkan nilai-nilai kabudayan Jawi sebagai fondasi pendidikan karakter siswanya.
Upaya itu diwujudkan melalui pembiasaan sehari-hari agar siswa tetap berakar pada budaya lokal tanpa kehilangan kesiapan menghadapi dunia global.
Kepala Sekolah SMP Labschool UNY, Sofyan Dwi Nugroho mengatakan, salah satu implementasi pembiasan sehari-hari itu melalui program Kami Untuk Lestarikan Adat (KULA).
Program ini sejalan dengan visi besar sekolah yang ingin mencetak generasi cerdas berkarakter, luhur berbudaya, namun tetap siap mendunia.
"Tujuannya agar anak-anak tidak kehilangan jati dirinya. Jangan sampai mereka sekolah di Jogja, tinggal di Jogja, tapi tidak tahu unggah-ungguh atau bahasa Jawa. Itu sangat miris," katanya saat ditemui Radar Jogja, di halaman sekolah, Jumat (23/1/2026).
Dalam program KULA, para siswa dibiasakan untuk mempraktikkan budaya luhur orang Jogja dalam keseharian.
Mulai dari sikap tubuh seperti ngapurancang, hingga penggunaan ibu jari saat menunjuk.
Menariknya, setiap mengakhiri pelajaran, para siswa akan berdiri dan serempak mengucapkan kata 'matur nuwun' sebagai bentuk apresiasi dan tata krama.
Oleh sebab itu, dalam proses belajar mengajar, para guru akan terus mendukung pembiasaan tersebut.
Mengingat itu merupakan salah satu visi-misi sekolah untuk mencetak generasi yang cerdas berkarakter, luhur berbudaya dan siap mendunia.
"Itu yang pertama pembiasaan kami, program wajib yang menjadi pembiasaan anak-anak," tegasnya.
Meski kental dengan nuansa tradisional, SMP Labschool UNY tidak menutup mata terhadap kompetensi global.
Selain KULA, terdapat program Jumlah untuk Menambah Pengetahuan (JAM) yang fokus pada penguasaan bahasa asing.
Program itu dilaksanakan setiap hari Jumat, para guru membiasakan siswanya untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris.
"Guru-guru kami, yang merupakan lulusan terbaik S1 hingga S3, juga diwajibkan mengikuti pelatihan bilingual agar bisa mengajar dengan bahasa Inggris. Jadi, karakternya lokal, tapi kemampuannya global," tuturnya.
Tak hanya soal karakter dan bahasa, sekolah ini juga menerapkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLIS).
Setiap hari Selasa hingga Kamis, siswa diberikan waktu 15 sampai 30 menit untuk membaca buku di perpustakaan.
Hal itu dilakukan untuk melatih kembali konsentrasi siswa yang belakangan mulai menurun akibat seringnya mengonsumsi konten video singkat (reels/shorts).
Untuk metode belajar di kelas, sekolah ini memiliki program Cakra Manggala, yakni sistem pendampingan teman sebaya.
Siswa yang unggul di mata pelajaran tertentu didapuk menjadi pemimpin kelompok untuk membantu temannya yang kesulitan.
"Belajar dengan teman sendiri seringkali lebih efektif karena mereka tidak merasa sungkan atau malu bertanya," terangnya.
Meski saat ini masih menempati gedung dengan status sewa di daerah Lowanu Kota Jogja, tapi Sofyan menjamin kualitas pelayanan pendidikan tetap menjadi prioritas utama.
Hal ini terbukti dengan meningkatnya minat pendaftaran siswa baru (PPDB).
"Kalau soal fasilitas gedung, kami memang masih menunggu gedung baru jadi. Namun untuk layanan memberikan pengalaman bermakna bagi anak, saya berani jamin 100 persen sangat relate dengan kebutuhan zaman sekarang," tambahnya. (ayu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita