JOGJA - Di tengah gencarnya gerakan literasi sekolah, SD Negeri (SDN) Gedongtengen Kota Jogja memilih melangkah lebih jauh.
Literasi tidak berhenti pada kebiasaan membaca, tetapi tumbuh menjadi ruang produktivitas karya.
Dari tangan-tangan kecil siswa hingga gagasan para guru, semua dirajut dalam buletin tahunan dan diperkuat melalui klinik literasi yang berjalan konsisten.
Baca Juga: The Power of Sedekah, MTsN 1 Kebumen Bangun Masjid Rp 3,6 Miliar dari Gerakan Infak Rp 1.000
Kepala SDN Gedongtengen Dianing Kurniastuti mengatakan, buletin tahunan sekolah merupakan wadah bagi siswa dan guru berkreativitas.
Baik itu melalui tulisan maupun karya seni yang bisa ditampilkan dalam bentuk media cetak.
Dianing menjelaskan, buletin tahunan SDN Gedongtengen sudah rutin terbit sejak tiga tahun terakhir. Fungsinya mirip seperti majalah dinding.
Namun dikembangkan supaya guru juga ikut berkontribusi dan lebih mudah dinikmati publik.
“Kehadiran buletin ini supaya kami bisa menyampaikan berbagai karya siswa dan kegiatan, sekaligus sebagai branding sekolah,” ujar Dianing kepada Radar Jogja, Kamis (15/1/2026).
Dia menyampaikan, bahwa buletin SDN Gedongtengen yang beralamat di Jalan Letjen Suprapto No 84, Pringgokusuman itu memuat berbagai macam materi.
Tidak hanya karya saja. Namun juga profil guru hingga pengawas sekolah.
Selama ini, buletin SDN Gedongtengen bisa dinikmati oleh orang tua siswa dan masyarakat yang datang ke sekolah.
Selain itu juga dikirimkan ke kantor kemantren, kelurahan, dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja.
Dianing berharap, lewat buletin itu sekolah bisa semakin dikenal oleh masyarakat luas.
Sehingga bisa meneguhkan SDN Gedongtengen sebagai sekolah yang berkualitas dan memiliki sumber daya manusia unggul.
Selain lewat buletin, SDN Gedongtengen juga terus menggenjot literasi siswa dalam hal kemampuan menulis dan membaca melalui klinik literasi.
Program tersebut mengintensifkan pendampingan bagi siswa yang selama ini kesulitan dalam hal membaca dan menulis.
Klinik literasi dilaksanakan sekolah setiap jam istirahat setelah salat Dzuhur.
Program itu juga tidak hanya fokus memberi pendampingan menulis dan membaca latin. Namun juga baca tulis Alquran.
“Saya bisa katakan bahwa klinik literasi ini satu-satunya di Jogja, dan itu hanya di SDN Gedongtengen,” tambhanya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita