MAGELANG - SMP Negeri (SMPN) 12 Magelang memilih jalur pembentukan karakter sebagai fondasi utama pendidikan, bukan semata mengejar nilai akademik.
Melalui pembiasaan religius, kedisiplinan, seni, olahraga, hingga kepedulian lingkungan, sekolah ini berupaya mencetak siswa berkarakter kuat di tengah tantangan pendidikan yang kian kompleks.
Berangkat dari visi 'terwujudnya insan yang bertakwa, berkarakter, berprestasi, berwawasan lingkungan dan global', sekolah ini membangun ekosistem pendidikan yang menyeimbangkan aspek spiritual, disiplin, seni, olahraga, hingga kepedulian lingkungan.
Seni menjadi satu kekuatan yang terus didorong. Berbagai pentas budaya dan seni tradisi kerap ditampilkan siswa, bahkan dengan persiapan yang serius, mulai dari latihan mandiri hingga penyediaan kostum secara swadaya.
Di bidang olahraga, bola voli menjadi cabang unggulan sekolah.
Meski prestasi tertinggi sejauh ini baru mencapai juara tiga tingkat daerah untuk tim putri, sekolah tetap konsisten melakukan pembinaan, sembari menyadari bahwa capaian prestasi juga sangat bergantung pada bibit atlet yang dimiliki.
Selain voli, sekolah menyediakan sekitar sepuluh kegiatan ekstrakurikuler.
Antara lain paduan suara, pencak silat, taekwondo, pramuka, tari, hingga karya ilmiah remaja (KIR). Kegiatan ekstrakurikuler dianggap memiliki kontribusi besar dalam pembentukan karakter.
Dia mencontohkan, olahraga dapat melatih disiplin dan kerja keras, sementara pramuka menanamkan kepedulian sosial, kemandirian, dan tanggung jawab.
"Tidak mungkin anak berprestasi kalau latihannya malas. Disiplin itu tumbuh dari proses," ujarnya.
Di bidang akademik, sekolah ini mulai beradaptasi dengan pendekatan pembelajaran mendalam (PM) yang berfokus pada siswa.
Sekolah juga bersiap mengadopsi pembelajaran berbasis science, technology, engineering, and mathematics (STEM), yang saat ini masih dalam tahap pengamatan dan sosialisasi, dengan target penerapan lebih intensif pada tahun ajaran mendatang.
Pemanfaatan teknologi juga terus dikembangkan. Selain telah memiliki interactive flat panel (IFP), sekolah bakal memasang televisi interaktif berbasis Android di ruang kelas, terutama kelas IX.
Media ini diharapkan mempermudah guru mengakses materi pembelajaran digital secara langsung dan meningkatkan interaktivitas di kelas.
Selain itu, pelanggaran kesepakatan sekolah, seperti ketidaklengkapan atribut hingga kebiasaan merokok, masih menjadi pekerjaan rumah.
Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah memilih pendekatan dialogis dengan melibatkan orang tua.
Setiap pelanggaran dibahas bersama untuk mencari solusi yang disepakati, mulai dari pembinaan hingga sanksi edukatif.
Ke depan, SMPN 12 Magelang menargetkan peningkatan status Adiwiyata menjadi Adiwiyata Mandiri dalam tiga hingga empat tahun mendatang.
Sekolah juga menaruh perhatian besar pada keberlanjutan lulusan, khususnya kemampuan siswa melanjutkan ke sekolah lanjutan favorit.
'Target utama kami sebenarnya sederhana, karakter anak berubah menjadi lebih baik. Prestasi akan mengikuti jika karakter sudah terbentuk," tambahnya. (aya/wia)