BANTUL - MTsN 9 Bantul berhasil menyandang predikat Madrasah Adiwiyata Nasional tahun ini. Lewat capaian ini, sekolah berkomitmen untuk mencetak generasi berintegritas dan peduli lingkungan.
Kepala Sekolah MTsN 9 Bantul Siti Solichah menjelaskan, setelah menyandang predikat Madrasah Adiwiyata Nasional, sekolahnya memiliki program unggulan yang berfokus pada lingkungan. Seperti program Trash Coin atau diartikan dengan sampah yang bisa menjadi uang.
Setiap Jumat, dalam program Jumaria (Jumat Ceria), para siswa tidak hanya datang untuk belajar. Tapi juga membawa setoran sampah anorganik dari rumah. Seperti botol plastik, kertas, hingga kardus bekas.
Setiap siswa diwajibkan untuk mengumpulkan sampah di kelas masing-masing, lalu dijual ke pengepul. "Uangnya masuk ke kas kelas. Kalau ada lomba pojok baca atau kebutuhan kelas lainnya, mereka punya modal sendiri dari sampah itu," ujarnya.
Baca Juga: PSIM Jogja Hadapi Dua Laga Uji Coba, Van Gastel Ingin Uji Prinsip Permainan dan Mentalitas Tim
Selain itu, siswa telah berhasil menyulap dinding madrasah menjadi estetik melalui vertical garden.
Dalam hal ini, lanjut Siti, dinding Madrasah kini dipenuhi tanaman hijau yang ditanam di dalam botol mineral bekas.
Tanpa perlu membeli pot mahal, para siswa MTsN 9 Bantul telah mampu membuktikan bahwa barang bekas bisa menjadi penyaring udara sekaligus pemanja mata.
Kini, sekolah dengan 470 siswa ini memiliki target agar program lingkungan di sekolah bisa menular ke masyarakat dan sekolah sekitar. Sebab menurut Siti, langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya madrasah untuk mewujudkan Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi (ZI-WBK).
Mengingat integritas dan kepedulian lingkungan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan untuk membentuk karakter siswa di masa depan. "Harapan kami, program Trash Coin dan vertical garden ini bisa diimbaskan ke masyarakat. Apalagi Jogja sedang darurat sampah," harapnya.
Selain itu, walaupun sangat kental dengan isu lingkungan, sekolah ini tetap mengedepankan sisi religiusitasnya. Sebab, MTsN 9 Bantul sendiri juga memiliki program tahsin dan tahfid. Program ini dikemas secara inovatif dan diberi nama Sahabat Quran.
Di program ini, lanjut Siti, setiap guru dan pegawai mendapatkan tanggung jawab sebagai pengasuh bagi tiga hingga empat siswa. "Jadi setiap minggu mereka bertemu. Tujuannya supaya murajaah-nya terjaga, hafalannya lebih nempel dan harapannya, lulusan kelas tahfid bisa hafal 30 juz," tegasnya. (ayu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita