SLEMAN - SD Muhammadiyah (SD Muh) Bendosari sempat mengalami masa keterpurukan yang mendalam.
Bahkan, terancam bangkrut karena sepi peminat. Namun, sekolah yang telah berdiri 56 tahun itu kini perlahan gaungnya mulai tersiar.
Dari yang dulu kekurangan pendaftar, kini justru harus menolak siswa karena kapasitas tak lagi mencukupi.
Kepala Sekolah SD Muh Bendosari Marjimun mengatakan, sekolah itu baru berdiri sejak 1 Januari 1969.
Berdasar cerita, pada tahun tersebut hingga awal 2000-an pernah menjadi sekolah favorit di wilayah Prambanan. Karena memiliki siswa banyak, didukung belum banyaknya sekolah lain pada masa itu.
"Konon, siswanya sampai membludak satu kelas bisa 40 siswa," ujarnya saat dihubungi, Jumat (21/11/2025).
Jumlah tersebut diklaim termasuk sebuah keberhasilan untuk ukuran SD swasta kecil di tengah kampung pada saat itu. Seiring perkembangan zaman, sekolah mengalami penurunan jumlah peminat.
Puncak kejatuhannya pada 2022. Sekolah dasar yang terletak di Dusun Bendosari, Madurejo, Prambanan, Sleman itu hanya mampu mendapatkan dua siswa.
Beberapa tahun sebelumnya pernah hanya mendapatkan 6-9 siswa. Tidak lebih dari 10.
"Keterpurukan itu menimbulkan keprihatinan karena ibaratnya sekolah ini sudah masuk ICU dan perlu dibangkitkan lagi," ungkapnya.
Pun sekolah itu juga berturut-turut berada di peringkat paling bawah di antara 29 SD se-Kapanewon Prambanan dalam perolehan hasil ujian akhir kelas 6. Hal tersebut yang menjadi salah satu penyebab sepinya peminat.
Dari sana, masyarakat sekitar, khususnya pengurus ranting dan jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Prambanan menginisiasi bahu membahu membangkitkan sekolah tersebut.
Kemudian, dibentuklah tim pengembangan yang bertugas menelaah kekurangan sekaligus mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.
Baca Juga: Atlet Asal Sleman Salsabila Zahra Aulia Tembus Semifinal wondr by BNI Indonesia International Challenge (IIC) 2025
"Mereka prihatin dengan kondisi sekolah dan ingin mengembalikan kejayaannya, terlebih SD Muh Bendosari satu-satunya SD di Kalurahan Madurejo," ucap laki-laki asal Bambanglipuro, Bantul itu.
Upaya yanng dilakukan tim pengembangan di antaranya mengirim tenaga pendidik SD tersebut untuk belajar ke pengurus Muhammadiyah Boarding School (MBS) yang statusnya masih sekolah milik Muhammadiyah.
Para guru juga diikutsertakan dalam program diklat. Mereka belajar membuat program, manajemen pengajaran dan materi pendukung lainnya.
"Beberapa program unggulan mulai muncul seperti kelas tahfidz, bahasa inggris, perhitungan cepat dan sebagainya," jelasnya.
Baca Juga: Potrobayan River Camp Tutup Lagi, Curah Hujan Tinggi, Debit Sungai Opak dan Oyo Naik
Pria yang selama 22 tahun mengabdi di beberapa SD Muhammadiyah itu menilai upaya tim pengembangan membuahkan hasil.
Pada tahun berikutnya, SD tersebut mendapatkan murid sebanyak 17 orang.
Di samping gencar melakukan promosi melalui kegiatan sosial dan keagamaan. Strategi lainnya adalah dengan memobilisasi para aktivis Muhammadiyah setempat untuk ikut menghidupkan sekolah.
"Banyak yang memasukkan anak mereka ke sini," imbuhnya.
Baca Juga: Dewan Kaget, 77 Persen Anggaran di Disnaker Kebumen untuk Belanja Pegawai
Keberhasilan sekolah dalam menghadapi keterpurukan dapat dilihat dari progres jumlah pendaftar dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Dimulai pada 2022 sebanyak dua pendaftar, 2023 meningkat menjadi 17 pendaftar ditambah 4 siswa pindahan.
Kemudian masuk 2024 sebanyak 20 pendaftar, lanjut 2025 meningkat drastis 37 pendaftar dan pada 2026 mendatang per November ini sudah terpesan 20 kursi.
"Mungkin pencapaian pertama, baru pertama kali ini ada yang telah memesan kursi sejak jauh hari," terangnya.
Baca Juga: Hujan Deras Sebabkan Paku Bumi Jebol, Jalan Amblas dan Retak di Sriharjo, Bantul
Total kelas di sekolah tersebut ada enam dengan jumlah murid 87 orang. Maksimal dalam satu kelas dibatasi 28 siswa.
Jadi pada 2025 ini, SD tersebut bahkan sampai menolak siswa dikarenakan kuota membludak.
Maka dari itu, target terdekat yang ingin ia gapai adalah bisa menambah jumlah rombongan belajar agar bisa lebih banyak menampung siswa.
"Saya yakin di 2026 itu kemungkinan membludak lagi kalau melihat jumlah pemesan," tambahnya. (oso/wia)