GUNUNGKIDUL - Di ruang praktik Teknik Mekatronika dan Elektronika SMKN 3 Wonosari, suara mesin dan percakapan para siswa terdengar riuh. Dari sinilah lahir Toya Saga. Produk air minum hasil inovasi sekolah yang dikembangkan hampir dua tahun terakhir.
Proyek ini dipimpin oleh guru Mekatronika Elektronik Nodya Hartoko, 39. Ia memanfaatkan sumber air bawah tanah milik sekolah sebagai bahan baku. Nodya menjelaskan, kebutuhan air minum di lingkungan sekolah menjadi titik awal lahirnya inovasi tersebut.
Baca Juga: Pinjam Pikap untuk Angkut Tahu, Warga Kebondalem Nekat Menggadainya hingga Rp 10 Juta
“Air minum itu kan pasti dibutuhkan. Kami punya sumur bor sendiri, lalu muncul pertanyaan, bagaimana caranya mengolah air dari tanah yang berkadar kapur tinggi menjadi layak diminum?” bebernya saat ditemui Jumat (14/11).
Awalnya, tim hanya menggunakan filter standar seperti yang digunakan depot air minum biasa. Namun hasilnya belum memadai. Tingkat Total Dissolved Solid (TDS) masih tinggi. Karena kandungan kapur yang besar pada air sadah.
Dia menyebut, target TDS di bawah 30. Sebab idealnya memang berada di angka 5-30. Setelah beberapa kali melakukan perbaikan, akhirnya Nodya bersama siswanya bisa mendapat TDS di bawah 30. Dengan pH stabil 7,2-7,5, dan kandungan air jernih tanpa kapur.
Menurutnya, angka tersebut sudah menuju kandungan air mineral Toya Boga bebas dari mikroba. Sistem filtrasi yang kini digunakan terdiri dari 14 tahap.
Menurutnya perombakan alat filtrasi pengolahan air dilakukan tiga kali. Mereka mempelajari berbagai teknik penyaringan, menambah filter mineral, hingga memastikan air tidak meninggalkan endapan saat diuapkan. Sebab tipikal air Gunungkidul yang kadar kapurnya cenderung tinggi, masih menjadi tantangan.
“Depot galon biasanya mudah karena mengambil air Merapi yang kadar kapurnya rendah,” ungkapnya.
Saat ini, Toya Saga mampu memproduksi 8-10 galon per hari. Sebagian besar digunakan untuk kebutuhan internal sekolah. Proyek inovatif ini dijalankan melalui unit Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sekolah. “Kita tidak mengharap income pribadi. Tapi dari hasil penjualan nanti, kita bisa beli alat baru, meningkatkan fasilitas, dan memperluas kemampuan produksi,” beber Nodya.
Baca Juga: Akhirnya Cetak Gol Perdana di Super League, Winger PSIM Jogja Deri Corfe Ungkap Rasa Leganya
Melalui BLUD, siswa juga belajar bekerja layaknya berada di dunia industri. Mulai dari perakitan, pengujian kualitas air, hingga komunikasi tim. Hal ini pun turut membentuk karakter sisa saat nanti terjun di lapangan kerja.
SMKN 3 Wonosari tidak berhenti pada produksi internal. Mereka tengah merancang pengembangan dua arah, regulasi dan teknologi. Nodya menargetkan setelah mengoptimalkan kapasitas produksi. Pihaknya akan mulai menyusun sertifikasi BPOM, SNI, dan halal.
Kemudian, kata dia, membangun sistem pengisian galon otomatis layaknya vending machine dengan pelayanan self service. “Ke depan, kami ingin orang cukup bawa galon, dicuci otomatis, diisi sendiri pakai kartu,” ucap Nodya.
Baca Juga: 20 Warga Masih Hilang, Pemprov Jateng Fokuskan Pencarian Korban Longsor Cilacap
Sementara itu, Kepala SMKN 3 Wonosari Dwi Retno Wahyuningsih menyebut, sekolahnya telah terverifikasi BLUD sejak 2020. Selama lima tahun, kata dia, sekolah ini memiliki produk mandiri hasil kreativitas siswa. Mulai dari cafe shop, mineral kemasan, hingga kerajinan tangan beraneka plakat akrilik dan produk audio sound system. Menurutnya, karya siswa tersebut selaras dengan program studi keahlian yang tersedia di SMKN 3 Wonosari. "Menjadi usaha belajar mengolah produk. Mulai dari hulu ke hilir," sebutnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita