SLEMAN - Pendidikan bagi siswa yang memilih sekolah menengah kejuruan (SMK) penting sebagai bekal mendapatkan pekerjaan.
Selama belajar, para siswa dilatih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.
“Mereka yang lulusan SMK bisa menggunakan ijazah dan ilmunya untuk bekerja sesuai dengan bidangnya," ucap Anggota Komisi D DPRD DIY Muhammad Yazid saat menjadi narasumber Sosialisasi Beasiswa Pendidikan Menengah Kamis (30/10/2025).
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY itu berlangsung di SMK Muhamadiyah 1 Gamping, Jalan Wates Km 6 Depok, Gamping, Sleman.
Sosialisasi diikuti para orang tua dan para pemangku kepentingan lainnya. Yazid sengaja menyinggung itu karena terjadi paradoks di lapangan.
Banyak warganet di media sosial mengeluhkan lapangan kerja yang sempit. Padahal banyak tersedia peluang kerja.
Bahkan ada beberapa pekerjaan dengan gaji menggiurkan, termasuk bekerja di luar negeri.
“Ironis bila manfaat besar itu tidak dimanfaatkan dengan baik. Kalau pun lulusan SMK tidak mau langsung bekerja, mereka juga dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” kata wakil rakyat yang tinggal di Dusun Dakawon, Sumbersari, Moyudan, Sleman ini.
Menyadari pentingnya pendidikan bagi siswa, Yazid menegaskan, melalui sosialisasi dirinya ingin memastikan para siswa bisa memperoleh hak menempuh pendidikan menengah.
Pertimbangannya, pendidikan menengah itu begitu penting bagi masa depan.
"Tuntutan keadaan memang harus memiliki modal, minimal berupa keahlian khusus pendidikan menengah," katanya.
Soal anggaran pendidikan di DIY, Yazid menilai sudah mememuhi 20 persen dari APBD.
Namun demikian, untuk menyelenggarakan pendidikan gratis masih sulit. Karena itu, aia ingin setidaknya di DIY bisa menghadirkan pendidikan dengan semurah mungkin.
Hal itu juga berlangsung bagi penyelenggaraan pendidikan di bawah lembaga swasta.
"Negara harus mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi swasta ikut hadir sehingga semestinya bisa diberikan perhatian lebih," kata anggota dewan yang terpilih 7 periode berturut-turut sejak Pemilu 19997 itu.
Berangkat dari semangat itu pula beasiswa pendidikan menengah yang dibiayai dana keistimewaan (danais) ini dapat hadir.
Dia mewanti-wanti, pemanfaatan danais harus berpihak pada pendidikan. Bukan hanya untuk membangun infrastruktur fisik saja.
Apalagi masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang belum selesai.
Salah satunya penyelenggaraan pendidikan bagi para disabilitas di sekolah luar biasa (SLB).
"Alhamdulillah ini sudah dikucurkan dan jadi hak masyarakat. Apabila punya putra-putri tidak bisa bayar sekolah menengah SMA/SMK bisa hubungi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY,” pesannya.
Meski bisa menyasar sekolah negeri dan swasta, Yazid mengingatka koridor-koridor yang harus dipenuhi.
Misalnya, surat keterangan tidak mampu. Syarat normatif tetap harus dipenuhi dengan koordinasi dengan sekolah masing-masing.
Saat ini ada tiga skema beasiswa pendidikan menengah. Pertama, beasiswa Kartu Cerdas bagi siswa tidak mampu yang menempuh pendidikan SMA/SMK di DIY.
Setiap siswa memperoleh bantuan Rp 1,5 juta per tahun. Kedua, beasiswa Retrieval untuk siswa yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke SMA/SMK. Setiap murid mendapatkan bantuan Rp 3 juta per tahun.
Ketiga, beasiswa Jaminan Kelangsungan Pendidikan bagi mereka yang ijazahnya ditahan sekolah swasta karena pertimbangan belum menyelesaikan biaya administrasi sekolah. Bantuannya maksimal setiap pelajar Rp 4 juta.
“Jangan karena alasan biaya sekolah, siswa terhambat mendapatkan akses pendidikan. Pemerintah daerah akan hadir. Lebih-lebih karena mengetahui adanya penahanan ijazah,” ungkap ayah dua anak ini.
Staf Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY Andiyanto Eko Saputro menjelaskan, beasiswa pendidikan menengah diberikan dalam rangka meningkatkan angka partisipasi pendidikan.
Meski begitu, bisa dibatalkan bila siswa penerima bantuan beasiswa ternyata tersangkut tindak pidana. Misalnya kasus kriminal.
Menurut dia, pengajuan beasiswa lewat sekolah. Tahun ini penerima bantuan beasiswa pendidikan menengah telah ada keputusannya.
“Sosialisasi ini untuk penerimaan beasiswa tahun depan, 2026,” terang Andiyanto.(del/kus)
Editor : Winda Atika Ira Puspita