BANTUL - SMKN 3 Kasihan menggelar pameran “NIRANTARA” Animation Exhibition 2025 di Galeri SMSR Rabu (22/10). Gelaran ini dilakukan sebagai pembelajaran berbasis teaching factory untuk siswa kelas 11 dan 12.
Ada karya gambar 2D dari 36 siswa kelas 11. Sementara 34 siswa dari kelas 12, dibagi menjadi dua kelompok. Menampilkan dua serial animasi 2D dengan tema permainan tradisional dan tema kuliner untuk serial animasi 3D. Dua karya tersebut ditampilkan dalam sesi screening film yang diadakan di hari pertama.
“Pembelajaran berbasis teaching factory ini sudah tahun kedua kalau tahun ini anak-anak sudah memproduksi serial animasi,” ungkap Kepala Program Studi Animasi SMKN 3 Kasihan Nina Tri Daniati.
Namun, kata Nina, terdapat perbedaan format dalam produksi film animasi tahun ini dengan sebelumnya. Tahun ini diproduksi dalam bentuk serial dengan harapan adanya keberlanjutan tema. Namun pada tahun sebelumnya, film diproduksi dalam format film lepas atau film pendek. Hal ini diambil dengan harapan dapat menjangkau khalayak lebih luas.
Film animasi 2D berjudul Dodolan Yuk, lanjutnya, menceritakan dan mengenalkan tentang permainan tradisional. Seperti bakiak, gobak sodor, dakon, dan berbagai permainan tradisional lainnya. "Intinya bercerita tentang Sora dan teman-teman berpetualang dalam permainan tradisional sekaligus belajar berbagai permainan tradisional," katanya.
Lanjutnya, film animasi 3D yang diberi judul Dapur Luna dan Sena mengisahkan dua saudara yang berusaha menghidupkan kembali warung peninggalan ibunya. Lewat kisah itu, penonton diajak mengenal berbagai makanan dan minuman tradisional.
Siswa SMKN 3 Kasihan yang juga pembuat karya animasi 2D Aurellia Diva Alexandra mengatakan, pembuatan dua animasi tersebut mulai dari perancangan naskah dan produksi film, membutuhkan waktu kurang lebih satu tahun. "Dua naskah yang terpilih merupakan hasil kurasi dari total 36 karya kreativitas siswa kelas 12," katanya.
Dalam proses produksi, ia dan tim selain belajar kerja sama dan kolaborasi, juga harus berkompromi dengan tantangan software yang digunakan. “Kayak kita kan pakai Tunggung tuh nggak gratis ya. Kita sempat pakai Tunggung 20, itu sudah nggak bisa dipakai lagi ternyata, jadi harus diganti lagi ke Tunggung 24,” ujarnya.
Sementara wakil ketua komite Chris Budiherjo menyebut, wali murid cukup terkesan dengan karya yang ditampilkan pada pameran ini. “Kami orang tua tuh salut adalah dari awal tuh kemandirian anak-anak kelas 12. Jadi mereka rapat, mereka membuat proposal, nyari sponsorship segala macem. Kita apresiasi betul itu justru kemandirian dari anak-anak,” Ungkapnya sembari tersenyum bangga.
Sebagai orang tua, Chris sangat mendukung kegiatan tersebut. Sekolah secara aktif hadir menfasilitasi siswa untuk berkarya sembari mempersiapkan diri menghadapi dunia industri. Ia juga menuturkan hal ini sangat baik dalam memberikan gambaran kepada anak sehingga lebih matang dalam merencanakan masa depan. Siswa diajak langsung untuk tidak hanya berhenti di pemahaman teori, tapi juga turut secara aktif diperkenalkan dan praktik langsung sesuai dngan kebutuhan di dunia industri saat ini.
“Kalau mau ngelanjutin, mereka nggak awang-awangan. Waktu mereka cerita, gara-gara pameran ini mereka punya gambaran. Nanti ke depannya next-nya apa,” tandasnya. (cin/mg12)
Editor : Sevtia Eka Novarita