Keberadaannya sebagai bagian dari program nasional untuk membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin.
Renovasi fasilitas yang sebelumnya merupakan bagian dari Sentra Antasena milik Kementerian Sosial, kini telah selesai dan dialihfungsikan menjadi boarding school setingkat SMA.
Terdapat empat ruang kelas, laboratorium, ruang komputer, asrama putra-putri, ruang makan, hingga fasilitas olahraga seperti lapangan basket dan tenis.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut, pendirian SR ini merupakan program strategis Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya pendidikan sebagai jalan memutus rantai kemiskinan.
Prinsipnya, kata dia, keberadaan SR menjadi sarana untuk memutus rantai kemiskinan. Anak-anak dari keluarga kurang mampu berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas.
"Sekolah Rakyat adalah sarana nyata untuk mewujudkan itu," tegas AHY usai kunjungan, Sabtu (13/7/2025).
Gedung Sentra Antasena direnovasi total dengan anggaran sekitar Rp 4,2 miliar. Mencakup pembenahan ruang kelas, asrama, ruang makan, laboratorium komputer, serta pengadaan mebel dan perlengkapan siswa.
Dengan luas lahan 2,3 hektare, kata AHY, lokasi ini sangat ideal. "Terdapat lapangan basket, tenis, dan ruang terbuka untuk kegiatan fisik. Anak-anak bisa tumbuh secara holistik di sini," ujar AHY.
Menurut dia, meski program ini masih bersifat awal dan menggunakan infrastruktur eksisting.
Ke depan pemerintah berkomitmen mencari lokasi permanen agar setiap kabupaten/kota dapat memiliki satu SR sendiri. Sebab Prabowo ingin, program ini tidak ditunda.
"Presiden tidak ingin program ini ditunda-tunda. Harus segera jalan, sambil kita kembangkan lokasi dan bangunan yang lebih permanen," tambahnya.
Dia melanjutkan, SR bukan sekadar solusi pendidikan, melainkan ikhtiar strategis negara melawan ketimpangan struktural.
Di tengah tantangan marjinalisasi pendidikan di kantong-kantong kemiskinan, model seperti ini menjadi oase yang menyediakan pendidikan gratis, akses asrama, dan penguatan karakter secara menyeluruh.
Pemerintah tidak ingin anak-anak dari keluarga miskin terus tertinggal. "Sekolah rakyat ini adalah jembatan harapan.
Semoga dari sini lahir generasi masa depan yang tangguh, disiplin, dan mencintai bangsanya," tandas AHY.
Direktur Prasarana Strategis, Kementerian Pekerjaan Umum Essy Asiah menjelaskan, proyek tahap pertama ini menyasar 63 titik, dengan anggaran renovasi sekitar Rp 230 miliar.
Setiap sekolah menampung sekitar 100 siswa dengan empat rombongan belajar (rombel).
Sebab pemerintah fokus pada renovasi cepat dengan memanfaatkan bangunan eksisting, seperti SR di Sentra Antasena ini.
"Mulai dari atap, plafon, landscape, hingga kelistrikan dan mebel semua disiapkan dalam waktu singkat sejak kontrak dimulai 10 Mei 2025," jelas Essy.
Kepala Sentra Antasena Magelang Supriyono menyebut, total ada 100 siswa angkatan pertama. Terdiri atas 48 laki-laki dan 52 perempuan, yang berasal dari seluruh kecamatan di Kabupaten Magelang.
Menurut dia, seluruh siswa telah melalui proses seleksi ketat berdasarkan tingkat kemiskinan keluarga.
"Semakin miskin, semakin prioritas untuk diterima. Kita cek langsung ke lapangan melalui home visit agar tidak ada penyalahgunaan," bebernya.
Tidak hanya soal akademik, sekolah ini juga menanamkan nilai nasionalisme dan kedisiplinan, dengan melibatkan unsur militer dalam pembinaan karakter dasar.
Kurikulum ganda ini, pendidikan nasional dan karakter, diharapkan membentuk pribadi tangguh yang siap bersaing, meskipun berasal dari latar belakang rentan secara ekonomi.
Menjelang hari peluncuran, seluruh siswa dan orang tua telah diundang ke lokasi. Rangkaian kegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi seluruh siswa, kemudian dilanjutkan dengan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
Para siswa akan langsung tinggal di asrama, dengan pendampingan dari 16 guru, 6 tenaga kependidikan, serta pengasuh asrama. (aya/laz)
Editor : Herpri Kartun