Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

SMP Gotong Royong Jogja Dukung Putusan MK soal Sekolah Gratis, tapi Minta Dijalankan Bertahap dan Tak Tergesa-gesa

Fahmi Fahriza • Senin, 9 Juni 2025 | 13:00 WIB

 

 

Kondisi ruangan kelas yang rusak dan masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa dan guru di SMP Gotong Royong, Tompeyan, Kemantren Tegalrejo, Kota Jogja, Minggu 5/6/2025)
Kondisi ruangan kelas yang rusak dan masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa dan guru di SMP Gotong Royong, Tompeyan, Kemantren Tegalrejo, Kota Jogja, Minggu 5/6/2025)

JOGJA - Di tengah gempuran kebijakan baru dalam konteks pendidikan nasional dan makin ketatnya persaingan antarsekolah, SMP Gotong Royong yang berlokasi di Jalan Tompeyan No.156, Tegalrejo, Kota Jogja, tetap bertahan meski hanya memiliki 11 siswa aktif. Sekolah swasta ini tidak hanya fokus pada pendidikan, tapi juga pengabdian.

Kepala Sekolah SMP Gotong Royong Ame Lita Br Tarigan Sibero mengakui, pihaknya telah mendengar soal kebijakan sekolah gratis, termasuk putusan MK yang mendorong penggratisan biaya sekolah bagi siswa di sekolah negeri dan swasta.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya kebijakan itu dijalankan secara bertahap dan tidak tergesa-gesa.

“Kami secara umum mendukung, tapi kebijakan itu jangan langsung sporadis. Lebih baik kalau ada proyek uji coba dulu, jangan langsung diketok palu jadi kebijakan,” ujarnya kepada Radar Jogja Minggu (8/6/2025).

Menurut Lita, sekolah swasta seperti SMP Gotong Royong selama ini hanya mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah Nasional (Bosnas), Jaminan Pendidikan Daerah (JPD), serta BOS dari pemerintah daerah.

Karena dana yang diterima bergantung jumlah siswa, sekolah dengan murid sedikit seperti mereka menghadapi tantangan besar dalam segi operasional.

“Bertahun-tahun kami memfasilitasi siswa tidak mampu. Hampir tidak ada pemasukan ekonomi dari siswa. Kami berusaha semaksimal mungkin agar sekolah ini tetap berjalan,” ungkapnya.

Dari 11 siswa yang aktif saat ini, ia merinci dua di antaranya duduk di kelas 7, dan sembilan siswa lainnya di kelas 8. Tahun ini, empat siswa telah lulus dari kelas 9.

Diakui, dengan total delapan guru yang mengajar, sekolah ini lebih terasa seperti keluarga kecil. Beberapa siswa diakuinya juga memiliki kebutuhan khusus, dengan kategori slow learner.

Baca Juga: Sapi Bernama Brindil Lepas, Sebabkan Warga Ngaglik Masuk RS hingga Opname

Meski muridnya sedikit, Lita dan para guru tetap bersemangat. Banyak dari siswa yang mendaftar karena rekomendasi keluarga atau teman.

Bahkan tak sedikit yang berasal dari keluarga yang sudah lama mengenal sekolah ini secara turun-temurun.

“Pernah ada keluarga itu anaknya 7, turun temurun kakak adik itu sekolah di sini,” kenangnya.

Ia membeberkan, selain melakukan tugasnya untuk mengajar para siswa, Lita bersama para guru lainnya juga mengabdi dan momong anak-anak tersebut.

“Setiap ada kegiatan, kami selalu mengukur kemampuan siswa agar tidak memberatkan. Kami memanfaatkan fasilitas seadanya dan mencari dukungan dari pihak ketiga,” katanya.

Dalam praktiknya, SMP Gotong Royong kerap mendapatkan bantuan dari relawan maupun donatur yang datang tanpa syarat.

Bentuk bantuannya pun beragam, mulai uang, tenaga, hingga alat-alat penunjang kegiatan belajar.

Ia turut berharap ke depan pemerintah dapat lebih melibatkan sekolah swasta kecil seperti SMP Gotong Royong dalam menyusun kebijakan pendidikan.

“Sekolah yang tahu apa kebutuhannya. Jadi kalau ada bantuan, seharusnya sekolah dilibatkan dalam proses penetapan kebijakan agar tepat sasaran,” harapnya.

Meski berada di tengah tantangan besar, semangat para guru di sekolah ini tidak surut.

Bahkan Lita bercerita, beberapa alumni yang sudah bekerja kerap kembali untuk memberikan kenang-kenangan sebagai bentuk rasa terima kasih kepada para guru.

“Ada yang datang bawa makanan, atau sekadar mengobrol. Itu yang bikin hati saya senang. Mereka masih mengingat saya dan asalnya dari mana,” tandasnya. (iza/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#SMP Gotong Royong #siswa baru bayar #sekolah gratis #mendukung #Tompeyan Tegalrejo #putusan MK