JOGJA - Sebanyak delapan siswa SMAN 3 Jogja antusias mengikuti konferensi dalam forum internasional dalam agenda The Global Youth Forum Cohort 1 2025 Victoria Australia. Agenda yang dilangsungkan secara online itu, membahas beberapa poin yang ada dalam Sustainable Development Goals (SDGs).
Diketahui, delapan siswa tersebut adalah Rizqi Wanita Sofiana, Nichole Vivienne Pang, Naufal Edhitama Kamil, Alifiah Asma Salsabila, Fabiola Anenina Karissa, Najwan Nadindra Setyawan, Mutihan Hayuning Kinanthi, dan Shafa Karina Dewi, yang seluruhnya datang dari kelas 11.
Guru pendamping yang juga bertugas sebagai penghubung dalam kegiatan internasional di SMAN 3 Jogja Noer Indahyati menyampaikan, secara garis besar forum tersebut adalah kolaborasi antar-siswa dalam skala internasional.
"Mereka membahas masalah atau isu yang relevan saat ini. Seperti yang dilakukan hari ini, membahas soal isu sampah dan lingkungan," katanya pada Radar Jogja, Selasa (29/4).
Indah menuturkan, bahwa forum tersebut secara akumulatif akan berlangsung selama 6 kali sesi pertemuan. Terdekat, pertemuan selanjutnya akan dilangsungkan pada 6 Mei mendatang.
Secara tujuan, ia menuturkan bahwa forum tersebut bisa menjembatani kolaborasi ide dan visi dari para siswa. Di samping itu, para siswa juga bisa melatih kepercayaan diri berbahasa Inggris, hingga membiasakan mereka berpikir secara terstruktur dan berbasis data.
"Para siswa diskusi langsung dengan anak-anak dari luar negeri, membahas situasi dan solusi yang mungkin bisa dilakukan," lontarnya.
Indah berujar, salah satu output yang dihasilkan adalah hasil riset dan solusi yang mungkin aplikatif. Khususnya solusi penyelesaian sampah.
"Bisa dibilang sampah mungkin jadi isu global, tapi penyelesaiannya di tiap negara bisa berbeda-beda. Itu yang secara garis besar dibahas," tuturnya.
Sementara itu, salah satu siswa yakni Sofiana mengaku cukup antusias bisa terlibat dalam forum tersebut. Dia pun bisa bertukar gagasan serta sudut pandang yang baru.
"Kami tadi banyak membasah poin SDGs nomor 15, yakni life on land. Lebih spesifiknya soal sampah, yang relevan dengan situasi saat ini," sebutnya.
Diakuinya, secara umum poin tersebut mengelaborasi soal pentingnya melindungi, merestorasi, dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan di ekosistem daratan.
Selain itu, turut ditekankan juga pentingnya mengelola hutan secara lestari, memulihkan degradasi lahan, serta mempertahankan keanekaragaman hayati.
"Kami merasa isu sampah itu urgent saat ini, baik di skala global, atau yang lokal seperti Jogja ini," paparnya.
Selanjutnya, Shafa Karina menambahkan, dari hasil diskusi interaktif yang dilangsungkan kurang lebih 4 jam tersebut. Ada beberapa solusi alternatif yang mungkin bisa dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan sampah.
"Kami pikirkan beberapa solusi antara lain adalah reverse vending machine, campaign, dan waste bank," ulasnya.
Shafa menerangkan, konsep reverse vending machine di sini adalah, setiap orang bisa menukarkan sampah ke dalam mesin dan akan mendapat benefit uang dari sana. Lalu, campaign sendiri akan dijalankan seperti no plastic in Friday at school, dan beberapa program Adiwiyata lainnya di sekolah.
"Kalau waste bank atau bank sampah itu kolaborasi dengan pihak eksternal. Tiga opsi tersebut kami rasa ideal untuk menekan atau mengurangi volume sampah," tandasnya. (iza)
Editor : Sevtia Eka Novarita