JOGJA - Edukasi dan pembiasaan untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, secara konsisten terus dilakukan oleh SD Tarakanita Bumijo kepada seluruh warga sekolah.
Wakil kepala sekolah bidang Humas dan Sarana Prasarana SD Tarakanita Bumijo Theresia Vina Indriyani menyampaikan, kebiasaan tersebut akhirnya membuahkan hasil positif, di mana sebelumnya SD Tarakanita Bumijo sudah berstatus sebagai sekolah Adiwiyata mandiri, dan baru-baru ini meriah prestasi dalam lomba kebersihan sekolah yang digelar oleh pemerintah kota (Pemkot) Jogja.
"Pertengahan Maret lalu, Pemkot Jogja menggelar lomba kebersihan dan kesehatan sekolah. Pesertanya ada 166 SD sekota Jogja," katanya pada Radar Jogja, Jumat (4/4).
Baca Juga: Terjerat Kasus Kekerasan Seksual terhadap Mahasiswanya, Guru Besar Farmasi UGM Dibebastugaskan
Dari 166 sekolah yang berkompetisi tersebut, Vina menuturkan bahwa SD Tarakanita Bumijo berhasil menjadi tiga terbaik. Bersama SDN Kyai Mojo, dan SD Muhammadiyah Sapen.
"Hanya dipilih 3 sekolah terbaik, dan tidak ada pengkategorian juara 1 sampai 3 nya," bebernya.
Disebutkan, beberapa indikator penilaian yang dilakukan dalam lomba tersebut adalah, soal kebersihan kelas, lingkungan, hingga kamar mandi. Di samping itu, pihak sekolah juga diminta untuk membuat video seputar kampanye pengelolaan sampah, serta memaparkan program pengelolaan sampah yang sudah dimiliki.
Vina menyampaikan, SD Tarakanita Bumijo memang memiliki beberapa program yang sudah dilakukan terkait lingkungan, dan pengelolaan sampah.
Antara lain adalah program Jumat bersih yang dilakukan setiap minggunya, yakni melibatkan warga sekolah, utamanya siswa untuk memilah sampah secara mandiri.
Di samping itu, SD Tarakanita Bumijo juga memiliki duta lingkungan yang bernama jagoan lingkungan, duta tersebut memiliki tugas penyuluhan dan edukasi masalah sampah pada sesama siswa.
"Kami juga bekerjasama dengan bank sampah, lalu ada metode komposting mandiri di sekolah, hingga metode losida," bebernya.
Dari pengkategorian sampah yang ada di sekolah, Vina menuturkan bahwa sejauh ini sampah didominasi oleh kategori daun, lalu diikuti oleh sampah bekas makanan seperti styrofoam bekas makanan.
"Styrofoam itu sebenernya banyak dibeli siswa dari penjual di area depan atau luar sekolah. Kalau di kantin sudah kami edukasi, dan siswa juga sudah terbiasa membawa Tumblr minum," ulasnya.
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo juga mengapresiasi para peserta lomba yang berasal dari berbagai sekolah di Kota Jogja. Menurutnya, keterlibatan pelajar dalam lomba ini menunjukkan generasi muda memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam membangun budaya hidup bersih.
"Perubahan nyata harus dimulai dari generasi muda. Generasi muda ini yang bisa menjadi agent of change," tuturnya.
Terlepas dari lomba yang sudah selesai dilakukan, ia juga mengajak seluruh sekolah untuk tetap menjadikan kegiatan gotong royong sebagai agenda rutin, guna menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan.
Ia berharap, kegiatan ini tidak hanya dilakukan di area sekolah, tetapi juga bisa meluas ke lingkungan sekitar.
"Semoga gotong royong bisa menjadi kegiatan rutin di sekolah, minimal sebulan sekali. Ini bukan cuma tentang kebersihan, tapi juga membangun nilai kepedulian dan kebersamaan," tandasnya. (iza)
Editor : Heru Pratomo