JOGJA - Hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025 telah resmi diumumkan pada 18 Maret lalu, pukul 15.00.
Salah satu sekolah yang memperoleh banyak kuota siswa diterima melalui SNBP adalah SMAN 3 Jogja, atau yang lebih dikenal dengan nama Padmanaba.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 3 Jogja Nanik Rahayu menjelaskan, jumlah siswa kelas 12 yang dimiliki SMAN 3 Jogja adalah 251 siswa.
Dari total tersebut, 40 persen atau sekitar 101 siswa memenuhi syarat untuk mengikuti SNBP 2025.
"Secara keseluruhan, ada 101 siswa yang eligible ikut SNBP. Alhamdulillah yang diterima sebanyak 73 siswa, atau 72,28 persen," katanya pada Radar Jogja, Jumat (21/3/2025).
Rinciannya, dari 73 siswa yang lolos SNBP, 67 di antaranya diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM), 5 siswa diterima di Universitas Sebelas Maret (UNS), dan 1 siswa diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Meski ada sedikit penurunan dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya, di mana pada 2024 sebanyak 89 siswa Padmanaba diterima melalui SNBP, Nanik tetap mengapresiasi hasil tahun ini.
Menurutnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah siswa yang diterima, tetapi lebih kepada kecocokan jurusan dan minat siswa.
"Alih-alih fokus pada kuantitas banyaknya, kami fokus di kualitas. Termasuk prodi dan kampus yang dipilih," ujarnya.
Untuk memastikan pilihan yang tepat bagi siswa, SMAN 3 Jogja memiliki program Konsultasi Siswa (Konsis) yang bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang minat dan cita-cita siswa.
Program ini mencakup asesmen psikologi dan analisis data nilai siswa dari semester 1, serta komunikasi intensif dengan siswa.
Sekolah ini memiliki program konsultasi siswa (Konsis). Konsis ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang minat dan cita-cita siswa.
Program ini mencakup asesmen psikologi dan analisis data nilai siswa dari semester 1, serta komunikasi intensif dengan siswa.
Dengan adanya Konsis ini diharapkan tidak ada kasuistik siswa salah jurusan. Sebab, jika siswa salah jurusan dan mengundurkan diri dari universitas terkait, maka akan menimbulkan dampaknya yang kompleks.
"Bisa saja di blacklist. Selain ke siswa, dampaknya juga ke adik kelas dan sekolah. Kami ingin pastikan hal tersebut tidak terjadi," tegasnya.
Seorang siswi Padmanaba yang diterima SNBP adalah Rizka Nadya Calista, dari pemeringkatan 101 siswa yang eligible, Rizka berhasil menduduki urutan ke 8 tertinggi di sekolah.
Dalam prosesnya, ia sangat terbantu dengan adanya program Konsis dan fasilitasi dari sekolah.
“Sekolah sangat memfasilitasi para siswa yang ingin mendalami materi tertentu, dengan guru terkait. Misal mau mendalami hitungan, nanti bilang ke sekolah untuk ada sesi khusus dengan guru matematika. Jadi ada pendalaman," tambahnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita