JOGJA – SMPN 5 Jogja menggelar pesantren kilat di Pondok Pesantren Al Ikhklas, Sleman selama tiga hari dua malam.
Sebanyak 316 siswa dari 10 rombongan belajar (rombel) di kelas 8 mengikuti kegiatan ini.
Dari kegiatan ini, mereka melakukan pendalaman ilmu dan materi agama Islam secara spesifik selama Ramadan.
Kepala Sekolah SMPN 5 Jogja Siti Arina Budiastuti mengatakan, kegiatan yang dimulai sejak 17 hingga 19 Maret itu sudah menjadi tradisi tahunan.
Hanya, para siswa yang diberlakukan menginap hanya dikhususkan kelas 8. Sementara kelas 7 dan 9 menjalani kegiatan semi pesantren di sekolah.
"Kelas 7 semi pesantren, tanggal 14 Maret lalu. Mulai kegiatan jam 1 siang, lalu buka bersama dan salat Tarawih di sekolah," katanya.
Sedangkan, untuk kelas 9 semi pesantren direncanakan akan dilangsungkan pada 21 Maret mendatang.
Dengan beberapa kegiatan seperti, berbagai takjil, zakat, dan buka puasa bersama. "Kelas 9 untuk yang muslim juga akan melakukan khotmil quran atau khatam Alquran," ujarnya.
Arina menerangkan, berbagai program selama bulan Ramadan merupakan kegiatan dari keseharian para siswa yang porsi dan jamnya ditingkatkan.
Pada hari biasa, semua agama difasilitasi dan dipastikan seluruh siswa beribadah sesuai agama masing-masing.
Pada saat momen Ramadan tiba, intensitas tersebut ditingkatkan. Mulai dari tadarus, salat Duha, hingga berbagai kajian dan pendalaman materi agama.
Menariknya, dalam pesantren Ramadan yang dilakukan selama 3 hari 2 malam tersebut siswa dilarang membawa handphone hingga make up.
Di samping itu, anjuran untuk menggunakan rok bagi siswi dan sarung bagi siswa, juga menjadi aturan selama kegiatan berlangsung.
"Itu dilakukan agar siswa bisa fokus dalam berbagai program yang ada, dan bisa memaknai Ramadan secara mendalam," lontarnya.
Salah satu siswa SMPN 5 Jogja Kayla Defara Ashari mengaku baru pertama kali mengikuti program pesantren kilat Ramadan.
Dan banyak mendapat pengalaman seperti tinggal dan tidur berkelompok dengan teman-temannya, hingga fokus melakukan kegiatan dalam periode waktu secara spesifik.
"Sejauh ini seru. Diajari banyak ilmu dan mendapat teman baru, karena tidurnya bareng temen beda kelas," bebernya.
Lebih lanjut, menyoal aturan tidak diperbolehkannya membawa handphone hingga make up tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
"Aku sendiri nggak masalah nggak bawa hp. Karena niatnya ke sini juga belajar dan pengen fokus," tandasnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita